
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Harga emas melemah setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang solid meredam ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (12/2/2026), harga emas di pasar spot terpantau terkoreksi 0,39% ke level US$5.064,36 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex tercatat turun 0,23% ke level US$5.086,90 per troy ounce.
Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi hingga 0,8% setelah pada sesi sebelumnya menguat 1,2%.
: Harga Emas Antam Hari Ini (12/2) Kokoh di Rp2,94 Juta per Gram
Tekanan terhadap logam mulia muncul seiring lonjakan payroll AS yang mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari setahun, sementara tingkat pengangguran secara tak terduga turun pada Januari. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS terus menunjukkan stabilisasi pada awal 2026.
Kondisi itu berpotensi memperkuat sikap pejabat The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Sejumlah pelaku pasar kini memundurkan proyeksi pemangkasan suku bunga berikutnya menjadi Juli dari sebelumnya Juni. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi katalis positif bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski melemah pada awal perdagangan Kamis, harga emas masih bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ounce dan telah memulihkan sekitar separuh kerugian setelah gejolak tajam di awal bulan.
Harga emas sempat melonjak ke rekor tertinggi di atas US$5.595 per ounce pada akhir Januari, sebelum aksi beli spekulatif memicu reli berlebihan. Harga kemudian anjlok sekitar 13% hanya dalam dua sesi.
Sejumlah bank global masih memproyeksikan tren kenaikan emas akan berlanjut. Faktor-faktor pendukung reli sebelumnya dinilai masih bertahan, mulai dari ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi The Fed, hingga pergeseran investasi dari aset tradisional seperti mata uang dan obligasi pemerintah.
: : Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Kamis 12 Februari 2026
BNP Paribas SA memperkirakan harga emas dapat menembus US$6.000 per ounce pada akhir tahun. Proyeksi bullish juga disampaikan oleh Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc.
Sementara itu, harga perak turun hingga 3,2% pada Kamis. Logam putih tersebut dikenal lebih volatil dibandingkan emas karena ukuran pasar yang lebih kecil dan likuiditas yang lebih rendah. Namun, pergerakan terbaru—yang disebut paling bergejolak sejak 1980—menonjol dari sisi skala dan kecepatannya. Harga perak kini turun sekitar sepertiga dari rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 29 Januari.
Koreksi ini terjadi setelah perak melonjak 4,3% pada sesi sebelumnya, menyusul laporan Silver Institute yang menyebut pasar perak akan mengalami defisit untuk tahun keenam berturut-turut. Lonjakan investasi dinilai lebih besar dibandingkan pelemahan permintaan perhiasan dan upaya pengurangan penggunaan perak di sektor surya.
Di China, pasokan perak masih ketat karena permintaan investasi dan industri menggerus persediaan. Dalam langkah yang berpotensi menahan arus keluar stok dari gudang, Shanghai Futures Exchange akan mencegah sejumlah pelaku usaha yang memegang kontrak berjangka perak untuk tujuan lindung nilai membawa kontraknya hingga tahap pengiriman fisik.
Secara keseluruhan, harga perak turun 1,1% menjadi US$83,39 per ounce. Adapun platinum melemah 0,4% dan paladium turun 0,3%. Indeks Bloomberg Dollar Spot yang mengukur kekuatan dolar AS tercatat turun tipis 0,1%.