Permintaan emas global tembus 1.231 ton di kuartal I-2026

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. World Gold Council (WGC) mencatat permintaan emas global naik 2% secara year on year (yoy) menjadi 1.231 ton pada kuartal I – 2026.

Pasokan emas tersebut berasal dari produksi tambang sebesar 885 ton, volume emas daur ulang yang mencapai 366 ton, dan dari aksi melepas lindung nilai (de-hedging) sebesar 10,4 ton.  

Shaokai Fan (Head of Asia Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks, World Gold Council menjelaskan, permintaan emas tetap solid. Apabila membandingkan kinerja di kuartal I – 2026 secara umum saat ini permintaan emas naik 2% yoy dan ini terjadi di berbagai negara di seluruh dunia dan lintas segmen emas.  

OJK: Rebalancing MSCI Picu Tekanan Jangka Pendek di Pasar Saham Indonesia

“Saya mau menekankan juga bahwa permintaan yang naik sebesar 2% menandakan kenaikan dalam volume emas, tapi untuk nilai emas itu sendiri ternyata meningkatnya lebih dari 70%. Oleh karena itu ini tidak lepas dari kinerja harga emas yang sangat baik,” kata Shaokai dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026). 

Dari sisi bank sentral sendiri pada kuartal I – 2026, total pembelian oleh bank sentral mencapai 244 ton atau naik 3% yoy. Bank Indonesia juga termasuk salah satu bank sentral yang turut membeli emas sebanyak 2 ton emas.     

Beberapa bank sentral juga menjual emas di kuartal I – 2026. Sebagai contoh bank sentral Turkiye yang menjual emas untuk membantu mempertahankan nilai tukar mata uang mereka.

Bank sentral Rusia juga menjual emas untuk mendanai perang dengan Ukraina. Akan tetapi secara umum masih sedikit sekali bank sentral yang memilih menjual emas. 

“Sebagian besar bank sentral di dunia masih pada fase akumulasi,” ucap Shaokai.  

Shaokai melanjutkan bahwa segmen permintaan yang paling dominan berasal dari segmen investasi, khususnya dari retail dan Lembaga.

Meski permintaan di segmen ini terbilang sedikit menurun karena volatilitas harga emas yang terjadi, namun segmen ini tergolong tetap memiliki permintaan yang tinggi. 

IHSG Anjlok 1,8% ke 6.734,5 di Sesi Pertama, AMNN, CUAN, BRPT Jadi Top Losers LQ45

“Secara total demand untuk investasi turun sekitar 5% yoy menjadi 536 ton. Akan tetapi angka ini pun juga tergolong tetap kuat secara historis. Dari segi nilai, demand investasi ini mencapai US$ 84 miliar yang tentunya dapat tercapai berkat harga emas yang tinggi,” ungkap Shaokai. 

Shaokai menambahkan bahwa pada kuartal I – 2026 permintaan akan emas batangan dan koin di Indonesia terbilang sangat tinggi, Bahkan naik 47% secara yoy atau setara dengan 23,6 ton. Ini merupakan salah satu kuartal terbaik bagi Indonesia. 

Selain Indonesia, permintaan koin dan emas batangan juga tinggi di negara lain. Pembeli utama adalah China dan India. Permintaan emas di Tiongkok tercatat meningkat 67% yoy mencapai 207 ton dan permintaan emas di India naik 34% yoy atau setara dengan 62 ton.

“Secara global kenaikan ini mencapai 42% yoy atau setara 474 ton,” terang Shaokai. 

Shaokai menambahkan, pasar lain dari emas adalah perhiasan. Secara umum untuk segmen perhiasan permintaannya turun sekitar 23% yoy menjadi 299,7 ton. Walaupun volume permintaan menurun tapi secara nilai justru segmen ini mengalami kenaikan sebesar 31% yoy. 

“Secara umum konsumen masih meminati perhiasan emas tetapi daya beli mereka terhalang oleh harga emas yang tinggi,” kata Shaokai. 

Dari sisi suplai emas sendiri terjadi kenaikan sebesar 2% yoy menjadi 1.231 ton pada kuartal I – 2026. Untuk Indonesia sendiri selaku negara produsen emas juga mengalami kenaikan produksi emas sebesar 19%. 

MSCI Picu Gejolak, IHSG Berpeluang Bangkit

“Angka ini cukup signifikan dan hal ini terutama diperoleh dari kontribusi tambang Batu Hijau,” jelas Shaokai. 

Selain itu, WGC mencatat keterkaitan antara permintaan emas dan sektor teknologi. Shaokai bilang, ini segmen yang mungkin lebih kecil tapi juga penting untuk diperhatikan. Secara umum, pada kuartal I – 2026 pertumbuhan permintaan emas segmen ini mencapai 1% yoy menjadi 82 ton. Permintaan ini didorong oleh pertumbuhan infrastruktur artificial intelligence (AI). 

“Karena memang emas juga digunakan dalam microchip, itu semua tentunya turut mendukung resiliensi dari sektor ini,” pungkas Shaokai.