Pilah-pilih saham andalan asing di tengah IHSG yang sedang lesu

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Dalam sepekan terakhir pasar masih menorehkan net buy asing Rp2,22 triliun meski indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas 7,89%. Nama-nama seperti PTBA, ITMG, ASII sampai PTRO menjadi penghuni daftar net buy asing terbesar di periode tersebut.

Di sisi lain, aliran modal asing tak menjadi garansi utama pergerakan saham di lantai bursa. Pasalnya, pergerakan saham-saham penghuni daftar net buy asing terbesar sepekan itu terpantau kontras. Misalnya, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dengan net buy asing di pasar reguler mencapai Rp308,51 miliar harga sahamnya naik 14,62%, sedangkan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang mencatat net buy asing Rp177,20 miliar harga sahamnya justru melemah 21,86%.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengingatkan pergerakan foreign flow dapat dijadikan indikator konfirmasi tren. Meski demikian, dia juga menekankan indikator itu sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar keputusan investasi. Menurutnya, strategi yang lebih efektif adalah mengamati pola akumulasi asing yang konsisten selama beberapa hari atau minggu, terutama pada saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi.

: Harga Emas UBS hingga Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini Selasa, 10 Maret 2026

“Ketika terjadi net buy asing yang berkelanjutan pada saham tertentu, misalnya pada saham batu bara seperti PTBA atau ITMG, investor ritel dapat memanfaatkan momentum tersebut dengan pendekatan buy on weakness, yaitu masuk saat harga terkoreksi namun tren akumulasi asing masih berlangsung,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).

Bukit Asam Tbk. – TradingView

Selain itu, investor juga perlu memperhatikan struktur tren teknikal dan valuasi agar tidak membeli pada fase distribusi atau pada level harga yang sudah terlalu mahal. Dalam kondisi pasar yang volatil seperti saat ini, ujar David, investor ritel disarankan tetap menerapkan position sizing yang disiplin, diversifikasi sektor, serta level cut loss yang jelas sehingga dapat memanfaatkan momentum pergerakan dana institusi tanpa mengambil risiko berlebihan.

: : Wall Street Pulih Setelah Sinyal Trump soal Akhir Perang Iran, Harga Minyak Turun

“Pendekatan ini memungkinkan investor ritel mengikuti arah foreign flow sekaligus menjaga manajemen risiko portofolio,” jelasnya.

Menilik tren pasar dalam sepekan terakhir, net buy asing sebesar Rp2,22 triliun di tengah koreksi IHSG hampir 8% menurutnya menjadi sinyal bahwa investor global tidak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia, melainkan melakukan rotasi portofolio yang lebih selektif.

: : Strategi Atur Portofolio Investasi ala Henan Putihrai AM Saat Pasar Saham Tertekan

Dalam kondisi volatilitas pasar, investor institusi biasanya mencari sektor yang memiliki earnings visibility tinggi dan relatif defensif terhadap siklus ekonomi, sehingga saham berbasis komoditas dan energi menjadi tujuan utama. Hal itu menurutnya tercermin dari akumulasi saham seperti PTBA, ITMG hingga UNTR.

Dari perspektif investor asing, sambungnya, sektor komoditas relatif menarik karena memiliki korelasi langsung dengan harga global seperti batu bara dan energi yang saat ini masih ditopang oleh dinamika geopolitik serta kebutuhan energi global.

Selain itu, beberapa saham tersebut juga menawarkan dividend yield yang relatif tinggi, yang menjadi daya tarik bagi investor institusi global ketika pasar berada dalam kondisi risk-off.

“Meski demikian, foreign flow tidak selalu langsung mendorong kenaikan harga saham karena faktor lain seperti profit taking domestik, tekanan indeks, atau valuasi jangka pendek masih dapat menyebabkan koreksi harga, seperti yang terlihat pada saham PTRO, ASII dan BRPT yang tetap melemah meskipun terjadi akumulasi asing,” tandasnya.

Saham Paling Cuan 2026 per 9 Maret (Ytd) Saham YTD (%) Perubahan Harga MDKA 46,05% +27,55 EMAS 44,14% +26,54 ANTM 21,27% +12,62 BIPI 183,72% +12,50 AADI 49,82% +11,45 ADRO 29,83% +10,24 DCII 5,00% +9,95 MEGA 18,29% +6,65 MBMA 15,79% +5,91 RLCO 234,28% +5,81

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.