Prediksi Wall Street soal saham 2026, AI jadi penentu arah pasar

Pasar saham Amerika Serikat menutup 2025 dengan performa yang terbilang luar biasa. Selama tiga tahun berturut-turut, indeks utama mencatatkan kenaikan dua digit dan bikin banyak investor makin percaya diri. Pertanyaan besarnya sekarang, apakah tren positif ini masih berlanjut di 2026.

Wall Street sendiri mayoritas masih optimis, meski target kenaikannya cukup beragam. Sejumlah analis menilai teknologi AI bakal jadi penentu utama arah pasar. Dengan memahami pandangan para pakar, kamu bisa melihat peta besar peluang dan risiko saham di tahun depan.

1. Optimisme Wall Street terhadap lanjutan reli pasar

Mayoritas analis Wall Street masih melihat peluang kenaikan indeks saham di 2026. S&P 500 yang menutup 2025 di level tinggi diperkirakan tetap mencetak pertumbuhan positif. Perbedaannya ada pada seberapa besar kenaikan tersebut, mulai dari satu digit hingga dua digit. Kondisi ini mencerminkan pasar yang optimistis, tapi gak lagi seragam seperti tahun-tahun sebelumnya.

Adam Turnquist, kepala analis teknikal di LPL Financial, melihat pola historis pasar sebagai acuan penting. Ia menilai setelah indeks naik tajam, tahun berikutnya biasanya tetap positif meski diwarnai koreksi sementara. Menurutnya, penurunan di tengah jalan merupakan bagian normal dari siklus pasar. Pandangan ini memberi gambaran bahwa kenaikan saham jarang berjalan lurus tanpa hambatan.

2. AI dinilai jadi motor utama pertumbuhan saham

Teknologi AI menjadi alasan utama banyak analis tetap bullish terhadap pasar saham. Wall Street melihat AI bukan sekadar tren sesaat, melainkan awal dari siklus pertumbuhan jangka panjang. Investasi besar perusahaan Amerika Serikat di bidang ini mendorong belanja modal dan ekspansi bisnis. Dampaknya terasa langsung pada pertumbuhan laba korporasi.

Hardika Singh, ekonom dan economic strategist di Fundstrat, termasuk salah satu analis yang cukup vokal soal hal ini. Ia menilai reli pasar saat ini menunjukkan kekuatan bull market yang masih solid. Menurut pandangannya, selama laba perusahaan terus tumbuh, kekhawatiran soal gelembung AI belum menjadi ancaman serius. Sikap optimistis ini didasari keyakinan bahwa ekonomi Amerika Serikat masih cukup tangguh.

3. Kebijakan suku bunga memberi angin segar

Ekspektasi pemangkasan suku bunga menjadi faktor pendukung lain bagi pasar saham 2026. Banyak pelaku pasar percaya kebijakan moneter yang lebih longgar akan membantu valuasi saham tetap menarik. Suku bunga lebih rendah biasanya meringankan beban biaya perusahaan. Kondisi ini berpotensi mendorong ekspansi bisnis dan kenaikan laba.

Sejumlah strategis pasar menilai inflasi relatif jinak dan membuka ruang pelonggaran kebijakan. Terry Sandven, kepala equity strategist di U.S. Bank Asset Management melihat kombinasi inflasi terkendali, suku bunga menurun, dan laba perusahaan yang naik sebagai kondisi ideal bagi saham. Ia menilai reli pasar juga mulai meluas ke sektor di luar teknologi. Penyebaran reli ini dianggap membuat pasar lebih sehat.

4. Valuasi mahal bikin ekspektasi lebih realistis

Meski optimisme masih kuat, isu valuasi gak bisa diabaikan. Banyak analis menilai saham Amerika Serikat kini tergolong mahal dibandingkan laba perusahaan. Kondisi ini membuat potensi imbal hasil ke depan gak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Valuasi tinggi sering kali berarti ruang kenaikan lebih terbatas.

Peter Oppenheimer, kepala strategi ekuitas global di Goldman Sachs, memandang pasar saham tetap menarik namun dengan ekspektasi return lebih rendah. Ia menilai bull market mulai melebar ke berbagai sektor, bukan hanya saham AI. Pendekatan selektif dianggap lebih penting dalam kondisi ini. Fokus pada pertumbuhan laba menjadi kunci agar risiko tetap terkendali.

5. Risiko geopolitik tetap membayangi

Di balik sentimen positif, risiko global masih menjadi perhatian utama. Ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan berpotensi memicu volatilitas pasar. Lonjakan minat terhadap aset aman pada periode sebelumnya mencerminkan kekhawatiran investor. Risiko semacam ini diperkirakan belum sepenuhnya hilang di 2026.

Christopher Harvey, kepala equity strategist di CIBC Capital Markets, menilai pasar masih menghadapi sejumlah tantangan. Ia menyoroti risiko di pasar kredit, ketidakpastian hasil belanja AI, serta isu kebijakan perdagangan. Menurutnya, faktor-faktor tersebut bisa menekan pasar meski tren jangka panjang masih positif. Pandangan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan.

6. Target indeks masih positif, tapi bukan tanpa syarat

Sejumlah analis senior tetap mematok target kenaikan indeks pada akhir 2026. Ed Yardeni, presiden Yardeni Research dan veteran analis pasar, memproyeksikan S&P 500 tetap naik dengan asumsi ekonomi dan laba perusahaan bertahan kuat. Ia menilai peluang koreksi besar atau pasar bearish masih relatif rendah. Optimisme ini didasarkan pada ketahanan ekonomi Amerika Serikat sejauh ini.

Meski begitu, Yardeni tetap mengakui risiko perlambatan ekonomi global. Ketahanan konsumen berpenghasilan tinggi menjadi faktor penting penopang laba korporasi. Selama kelompok ini masih aktif berbelanja, tekanan ke pasar saham dinilai terbatas. Perspektif ini membuat outlook 2026 tetap positif, meski penuh catatan.

Prediksi Wall Street soal saham 2026 menunjukkan optimisme yang masih dominan, dengan AI sebagai penggerak utama. Dukungan laba perusahaan dan ekspektasi suku bunga rendah memberi fondasi kuat bagi pasar.

Meski demikian, valuasi mahal dan risiko geopolitik membuat jalan ke depan gak sepenuhnya mulus. Dengan memahami pandangan para pakar, kamu bisa melihat pasar secara lebih seimbang. Pendekatan realistis dan selektif jadi kunci menghadapi dinamika saham di 2026.

Wall Street Nilai Pasar Saham AS Masih Bisa Naik meski Khawatirkan AI Warren Buffett Resmi Lepas Jabatan, Wall Street Soroti Warisannya Aksi Warner Bros Akuisisi Netflix 72 Miliar Dolar Gegerkan Wall Street