
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bisa tersengat sentimen positif dari dua kebijakan bank sentral bulan Februari 2026 ini.
Asal tahu saja, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026, Kamis (19/2/2026).
Di sisi lain, The Fed merilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Januari pada Rabu (18/2/2026).
Dokumen itu menunjukkan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga acuan (Fed Rate) di kisaran 3,50%–3,75% didukung oleh “hampir seluruh” anggota. Artinya, para pejabat The Fed tetap terpecah terkait kebijakan suku bunga ke depan.
IHSG Berpeluang Menguat pada Perdagangan Kamis (18/2), Cek Saham Rekomendasi Analis
Pada Kamis (19/2/2026), IHSG turun 0,43% ke 8.274 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, pelaku pasar dan investor masih menerima situasi dan kondisi dari keputusan BI dalam mempertahankan tingkat suku bunga.
“Sebab, pelaku pasar dan investor melihat belum banyak situasi dan kondisi yang berubah hingga hari ini, meskipun sudah mulai stabil,” katanya kepada Kontan, Kamis (19/2/2026).
Namun, investor justru tidak menyangka perihal cerita mengenai risalah The Fed yang konon katanya ada beberapa pejabat yang ingin menaikkan tingkat suku bunga.
Meskipun demikian, risalah tersebut tetap mengindikasikan narasi positif, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang berpotensi mengalami penurunan, dan ketenagakerjaan yang mulai pulih.
IHSG Diprediksi Sideways Jelang Long Weekend, Cek Saham Pilihan Analis, Jumat (13/2)
“Kabar itu menjadi bekal bagi pelaku pasar dan investor untuk mulai masuk (ke pasar saham Indonesia),” ungkapnya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai, keputusan BI mempertahankan bunga di 4,75% memberikan kepastian di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Sementara, risalah FOMC menjadi panduan arus modal asing. Meskipun ada tekanan jual (outflow), kekuatan domestik terbukti mampu menjaga IHSG di 8.200-an hari ini,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (19/2).
Sementara, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, peluang IHSG untuk rebound masih besar, mengingat koreksi yang sangat dalam dari level all time high (ATH) pada Januari lalu.
“Namun sentimen BI rate tidak akan banyak berdampak,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.
IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas pada Rabu (18/2), Ini Rekomendasi Analis
Dalam jangka pendek, kata Nico, pergerakan IHSG masih memasuki fase konsolidasi dan ada di rentang 8.170 – 8.350. Di tengah kondisi saat ini, sektor yang bisa dilirik oleh investor adalah consumer non-cyclical, energi, basic industry, properti, dan infrastruktur.
David melihat, IHSG sepanjang kuartal I berpotensi stabil di atas 8.200, dengan target optimis 8.450 – 8.500 di penghujung Maret nanti.
Sektor yang prospektif di tengah sentimen kebijakan bank sentral ini adalah sektor energi serta konsumer dan ritel.
Untuk sektor energi, didorong oleh efisiensi biaya dan kenaikan harga komoditas. Sementara, sektor konsumer dan ritel terkerek sentimen musiman jelang Ramadan dan Lebaran.
David pun menyarankan investor untuk memerhatikan saham MEDC, PGAS, ERAA, dan INDF.
Sementara, Rully memprediksi, IHSG di akhir Februari akan ada di kisaran 8.300 – 8.500. Sementara, di akhir kuartal I nanti akan ada di kisaran 8.400 – 8.700.
Cermati Rekomendasi Saham dan Proyeksi IHSG untuk Hari Ini (12/2)
“Sektor konsumen dan ritel akan lebih banyak terdampak positif dari stimulus yang akan dikeluarkan oleh pemerintah sepanjang kuartal I 2026,” ungkapnya.
Rully pun merekomendasikan beli untuk EXCL, CMRY, dan MYOR dengan target harga masing-masing Rp 4.300 per saham, Rp 7.100 per saham, dan Rp 2.800 per saham.