Reksadana dolar AS makin dilirik, dana kelolaan melonjak 899%

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Dana kelolaan reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pertumbuhan signifikan seiring melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Tren ini menunjukkan perubahan preferensi investor yang mulai mencari instrumen investasi dengan potensi lindung nilai (hedging) terhadap risiko kurs sekaligus imbal hasil yang kompetitif.

Investor Beralih ke Aset Berdenominasi Dolar AS

Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, investor dinilai semakin selektif dalam memilih instrumen investasi. Selain mengejar return, faktor stabilitas dan potensi keuntungan dari penguatan dolar AS menjadi pertimbangan utama.

Berdasarkan data Infovesta, salah satu produk yang mencatat pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) tertinggi adalah reksadana pasar uang dolar AS milik Sucorinvest Asset Management, yakni Sucorinvest Money Market USD.

Produk tersebut membukukan return sebesar 1,19% secara year to date (ytd), dengan lonjakan dana kelolaan mencapai US$ 13,34 juta atau tumbuh 899,55% secara tahunan (year on year/yoy).

MSCI Rebalancing 12 Mei, Danantara Yakin Tak Ada Kejutan: Doakan yang Terbaik

Strategi Portofolio dan Alokasi Aset

Berdasarkan fund fact sheet per 31 Maret 2026, Sucorinvest Asset Management menempatkan 85% portofolio pada obligasi dengan jatuh tempo di bawah satu tahun, serta 15% pada deposito dan setara kas.

Adapun komposisi efek terbesar dalam portofolio tersebut meliputi:

  • INDOIS415 032927 sebesar 41,46%

  • Indon27 sebesar 24,46%

  • Republic of Indonesia Due 090626 sebesar 15,92%

  • Obligasi USD Berkelanjutan Oki Pulp & Paper Mills Tahap I Tahun 2025 Seri A sebesar 2,07%

  • Obligasi USD Berkelanjutan II Indah Kiat Pulp & Paper Tahap IV Tahun 2025 Seri A sebesar 0,70%

Strategi ini mencerminkan pendekatan konservatif yang tetap memberikan ruang imbal hasil optimal di tengah volatilitas pasar global.

Reksadana Pasar Uang Jadi Favorit Investor

Head of Investment Specialist and Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana, menjelaskan bahwa reksadana pasar uang dolar AS menjadi salah satu pilihan utama investor, terutama bagi mereka yang mengutamakan likuiditas dan volatilitas rendah.

“RDPU juga umumnya digunakan untuk kebutuhan keuangan jangka pendek maupun sebagai bagian dari strategi pengelolaan kas dari keseluruhan portofolio di tengah volatilitas geopolitik yang masih membayangi pasar serta pelemahan nilai tukar Rupiah,” ujar Lolita kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Menurut Lolita, kategori pasar uang dan pendapatan tetap masih mendominasi dana kelolaan reksadana dolar AS. Hal ini dianggap wajar karena kedua instrumen tersebut memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan reksadana saham maupun campuran.

Investor Beralih ke Reksadana Dolar, Ini Pendorong Utamanya

Prospek dan Faktor Suku Bunga Global

Dari sisi prospek, Lolita menilai reksadana pasar uang dan pendapatan tetap dolar AS masih menarik untuk ke depan. Namun, investor tetap perlu mencermati arah kebijakan suku bunga global.

Perubahan kebijakan suku bunga acuan baik dari Bank Indonesia maupun bank sentral AS, Federal Reserve, akan menjadi faktor kunci yang memengaruhi yield obligasi serta arus dana investor global.

“Dengan demikian, kami melakukan strategi pengelolaan secara aktif melalui durasi dan pemilihan underlying asset berkualitas dalam mengoptimalisasi kinerja reksadana,” kata Lolita.

Strategi Aktif di Reksadana Saham

Selain mengelola reksadana pasar uang dolar AS, Sucorinvest Asset Management juga menerapkan strategi aktif pada produk saham dengan mempertimbangkan prospek sektoral, fundamental perusahaan, serta valuasi pasar.

Sebagai gambaran, per April 2026, Sucorinvest Global Equity Sharia USD mencatat kinerja positif sebesar 19,53% secara tahunan. Kinerja ini belum memperhitungkan potensi capital gain dari selisih kurs dolar AS terhadap rupiah di sisi investor.