Rupiah melemah ke Rp 16.894, pasar cermati sikap pemerintah dan sentimen global

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah. Pada akhir perdagangan Kamis (19/2/2026), rupiah spot ditutup pada level Rp 16.894 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,06% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.884 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,24% secara harian ke Rp 16.925 per dolar AS pada Kamis (19/2) dibandingkan penutupan sehari sebelumnya Rp 16.884 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar mencermati sikap pemerintah terhadap rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) terkait kebijakan fiskal.

IHSG Melemah 0,43% ke 8.274 pada Kamis (19/2), BMRI, JPFA, SMGR Jadi Top Losers LQ45

Ia menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak usulan IMF untuk menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) karyawan atau PPh 21 demi menjaga defisit APBN di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Ibrahim, dalam kajian fiskal jangka panjang, IMF memang mendorong Indonesia mempertimbangkan peningkatan bertahap pajak tenaga kerja guna memperkuat pembiayaan investasi publik menuju target Visi Indonesia Emas 2045. Namun pemerintah menilai posisi defisit APBN saat ini masih aman di bawah ambang batas.

“Dibanding mengerek tarif pajak karyawan, pemerintah saat ini lebih fokus pada perluasan basis pajak dan penutupan kebocoran penerimaan dibanding menaikkan tarif pajak. Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan,” ujar Ibrahim, Kamis (19/2/2026).

Rupiah Jisdor Melemah 0,24% ke Rp 16.895 per Dolar AS pada Kamis (19/2/2026)

Dari eksternal, pasar juga dibayangi minimnya kemajuan dalam upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Kondisi ini memperkuat risiko keamanan global dan meredupkan harapan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia.

Selain itu, risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga lanjutan.

Meski begitu, mayoritas pembuat kebijakan sepakat risiko inflasi masih condong ke atas, sehingga suku bunga The Fed berpotensi bertahan tinggi lebih lama.

Untuk perdagangan Jumat (20/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp 16.890 – Rp 16.930 per dolar AS.