
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Emiten konsumer dan peritel dinilai berada dalam posisi strategis untuk menadah berkah Ramadan 2026. Apalagi, emiten seperti PT Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) masih membukukan koreksi laba bersih sampai kuartal III/2025.
Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan hari besar keagamaan biasanya mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga yang diikuti dengan kenaikan volume penjualan emiten konsumer dan ritel.
“Sektor konsumer dan ritel berpotensi tetap resilien pada semester I/2026, ditopang momentum musiman Imlek–Ramadan yang mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, dengan prospek perbaikan volume penjualan seiring stabilisasi inflasi dan bertahapnya pemulihan daya beli masyarakat,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Kamis (19/2/2026).
Menilik performa keuangan dalam periode Januari-September 2025, AMRT membukukan koreksi laba bersih 3,49% year on year (YoY) menjadi Rp2,31 triliun. Sebenarnya, emiten pengelola Alfamart ini membukukan pertumbuhan pendapatan neto 7,09% YoY menjadi Rp94,47 triliun. Namun, beban pokok pendapatan perseroan naik 6,95% YoY menjadi Rp74,17 triliun, ditambah pos beban-beban lainnya yang membuat laba usaha Alfamart susut.
Sementara itu, ICBP dalam 9 bulan pertama 2025 mencatat koreksi laba bersih 12,77% YoY menjadi Rp7,11 triliun. Walau penjualan bersih perseroan meningkat 1,14% YoY menjadi Rp56,27 triliun, ICBP harus menanggung lonjakan beban keuangan 95,23% YoY menjadi Rp3,01 triliun, membuatnya mengalami penyusutan laba bersih.
: Bos Telkom (TLKM) Bocorkan Persyaratan jadi Mitra Strategis Infranexia
Bernasib serupa, INDF yang juga membukukan pertumbuhan penjualan 4,64% YoY menjadi Rp90,98 triliun per akhir September 2025, harus menanggung koreksi laba bersih 10,03% YoY menjadi Rp7,88 triliun lantaran kenaikan pada pos-pos beban penjualan dan beban keuangan.
Harry melanjutkan, Samuel Sekuritas tetap merekomendasikan ketiga saham emiten tersebut karena memiliki prospek yang positif ke depannya. Adapun, di lantai bursa hingga sesi I perdagangan Kamis (19/2/2026) AMRT tak berubah di Rp1.910, ICBP dan INDF juga masih stagnan masing-masing di Rp8.200 dan Rp6.750.
“Kami merekomendasikan AMRT karena dinilai lebih resilien dibanding peritel barang tersier. Saat ini saham diperdagangkan pada valuasi menarik price to sales (P/S) 0,5 kali estimasi sepanjang 2026, ini di bawah rata-rata 5 tahun sebesar 0,8 kali dengan return on equity (ROE) 23,8%, di atas peers 20,6%. Target harga AMRT Rp2.400,” ujarnya.
Sementar itu, Samuel Sekuritas di sektor saham emiten konsumer merekomendasikan buy untuk ICBP dan INDF karena dinilai memiliki pangsa pasar mie yang dominan. Target harga kedua saham tersebut masing-masing Rp11.000 dan Rp9.100 per saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.