Target baru harga saham Unilever (UNVR) usai lepas Sariwangi

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis memberikan rekomendasi yang beragam untuk saham konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) selepas raksasa FMCG itu melepas bisnis teh ternama Sariwangi ke pelukan Grup Djarum.

Dari meja konsensus, kalangan analis mengubah rekomendasi mereka terhadap saham Unilever Indonesia. Tercatat sejak pengumuman tersebut disampaikan Unilever, sebanyak enam sekuritas memperbarui rekomendasinya.

BNI Sekuritas misalnya, yang semula menetapkan harga saham Rp2.700 per saham untuk UNVR, mengerek target harganya menjadi Rp3.000 per saham. Rekomendasi BNI untuk membeli saham UNVR tidak berubah.

: IHSG Ditutup Koreksi 0,22% Usai Tembus 9.000, Big Caps DSSA hingga UNVR Tetap Melaju

Sebaliknya, Indo Premier Sekuritas tercatat mempertahankan rekomendasi hold tetapi menurunkan target harga saham perseroan menjadi Rp1.950. Sekuritas ini sebelumnya memberikan target harga sebesar Rp2.000 untuk saham Unilever.

Meskipun begitu, sebagian besar analis masih memberikan pandangan positif terhadap Unilever. Hal itu terbukti dari saham perusahaan raksasa FMCG ini masih mendapatkan rekomendasi beli dari 15 sekuritas, dengan holds oleh 10 sekuritas, dan hanya 4 sekuritas yang merekomendasikan sells.

Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Cindy Alicia Ramadhania menjadi salah satu analis yang memandang positif aksi yang diambil Unilever belakangan. Menurutnya, pelepasan merek yang dilakukan perseroan sebagai langkah yang strategis dan logis.

Harapannya, selepas menjual merek Sariwangi ke pelukan PT Savoria Kreasi Rasa, perbaikan margin bisnis dapat mendorong pertumbuhan kinerja keuangan perseroan secara keseluruhan.

“Divestasi ini ditujukan pada lini bisnis yang kinerjanya dinilai kurang optimal, sehingga perseroan dapat lebih fokus pada bisnis inti sekaligus meningkatkan efisiensi operasional,” katanya kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).

Unilever Indonesia Tbk. – TradingView

Selain pelepasan bisnis Sariwangi, Unilever juga dinilai memiliki katalis positif lainnya berupa prospek pertumbuhan konsumsi domestik hingga stabilitas harga bahan baku.

Hanya saja, sejumlah sentimen negatif masih membayangi, seperti daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya hingga tingkat persaingan yang kian ketat di industri FMCG.

Sinarmas merekomendasikan speculative buy terhadap saham UNVR dengan target harga Rp2.770–Rp2.830 per saham dengan stop loss pada area Rp2.500 per saham. Pada perdagangan hari ini, UNVR dibanderol seharga Rp2.620.

Sentimen negatif mengenai persaingan ketat di industri FMCG juga disampaikan oleh Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas yang menilai persaingan di industri tersebut berpotensi mendorong pelemahan bagi UNVR. Selain itu, tren downtrading memiliki dampak yang tidak jauh berbeda.

Meskipun begitu, Sukarno menilai aksi pelepasan merek yang dilakukan Unilever terhadap Sariwangi sebagai langkah strategis yang tepat untuk meningkatkan kualitas laba perseroan. Hanya saja, pertumbuhan pendapatan secara jangka pendek berpotensi tertekan akibat hal ini.

“Aksi pelepasan merek dinilai sebagai langkah strategis yang tepat untuk meningkatkan kualitas laba, meski menekan pertumbuhan pendapatan jangka pendek. UNVR kini lebih efisien dan cash-generative,” katanya, Kamis (8/1/2026).

: Deretan Brand yang Dilepas Unilever (UNVR), Ada Blue Band Kini Sariwangi

Konsensus Bloomberg juga memprediksi pendapatan yang belum bertumbuh signifikan pada 2026. Jika pada 2025 konsensus memprediksi pendapatan senilai Rp35,60 triliun atau tumbuh 1,33% YoY, kini konsensus hanya meramal pertumbuhan 1,32% dari realisasi 2025.

Pendapatan atas segmen makanan dan minuman juga diprediksi terkoreksi 13,10% YoY pada 2026, dengan pendapatan Home dan Personal Care tumbuh 5,58% YoY.

Kiwoom merekomendasikan hold saham UNVR dengan target harga Rp2.800 per saham.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.