
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga nikel dunia diproyeksi terus meningkat seiring dengan rencana pembatasan produksi nikel di Indonesia. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan naik 8,95% ke US$ 18.524 per metrik ton.
Pengamat komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan kabar mengenai rencana pemangkasan target produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi 250 juta ton memang tengah menjadi sorotan utama di pasar komoditas.
Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis pemerintah untuk menyeimbangkan pasar dan menyelamatkan harga yang tertekan.
Jika pemangkasan sekitar 34% dari target 2025 yang sebesar 379 juta ton benar-benar terealisasi dan ditegakkan secara ketat, para analis memperkirakan adanya pergeseran level harga menjadi berbalik menguat.
Harga Nikel Tembus US$ 18.000 per Ton, Mayoritas Harga Saham Emiten Nikel Melesat
“Harga saat ini dianggap sudah mendekati atau bahkan di bawah cash cost (biaya produksi) bagi banyak penambang global di luar Indonesia. Pengurangan pasokan dari Indonesia sebagai pemegang pangsa pasar lebih dari 50% akan memaksa harga naik untuk menjaga keberlangsungan industri,” jelas Wahyu kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).
Wahyu melihat pembatasan kuota juga dibarengi dengan pengetatan izin smelter baru. Ini menandakan Indonesia mulai beralih dari mengejar volume menjadi mengejar value dan standar lingkungan atau environmental, social, governance (ESG) yang lebih baik.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan harga nikel masih berpotensi naik melewati US$ 20.000 per metrik ton. Sentimen utama penggerak harga adalah pembatasan produksi nikel di Indonesia melalui penyesuaian RKAB 2026 untuk mengatasi oversupply global.
“Pembatasan 25% ini akan bisa menutupi oversupply global sekitar 7%–8%,” ucap Lukman.
Wahyu menilai dalam jangka pendek (1 bulan), harga nikel bisa mencapai US$ 16.000–US$ 20.000. Ini tergantung seberapa lama RKAB “nyangkut”. Jika dalam dua pekan belum ada kejelasan, harga bisa melompat ke atas US$ 18.000.
Adapun dalam kurun waktu tahun 2026, Wahyu memproyeksi harga nikel dapat mencapai rentang US$ 10.000–US$ 25.000 jika RKAB terbit namun dengan kuota yang dipangkas.
“Harga akan stabil di level tinggi namun cenderung melandai karena stok LME masih cukup tinggi,” ucap Wahyu.
Produksi Nikel Nasional Berpotensi Turun, Begini Dampaknya Bagi Emiten Nikel
Seperti diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga awal tahun 2026 belum menerbitkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 bagi perusahaan pertambangan mineral dan batubara.
Hal ini tak lepas dari rencana penyesuaian produksi nasional tahun depan, khususnya untuk komoditas nikel.
Proses RKAB 2026 disebut sedikit dipengaruhi oleh arah kebijakan produksi nasional. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan bahwa kebijakan tersebut bukan pemangkasan, melainkan penyesuaian.
Dalam catatan Kontan, Kementerian ESDM sebelumnya memberi sinyal akan menurunkan target produksi nikel pada 2026. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang membatasi penerbitan izin pembangunan smelter nikel baru melalui Izin Usaha Industri (IUI).