
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatatkan penguatan dan memecahkan rekor all time high ke level 9.133,87 pada perdagangan Senin (19/1/2025). Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp16.955 per dolar AS.
Penguatan IHSG tersebut tidak sejalan dengan pergerakan rupiah yang masih berada di bawah tekanan. Meski demikian, Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai kondisi tersebut tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
“Arus ke pasar saham dan pergerakan nilai tukar digerakkan oleh faktor yang berbeda,” ujar Andrey, Senin (19/1/2026).
: Pemerintah Diminta Perkuat Kredibilitas Fiskal di Tengah Pelemahan Rupiah
Menurut Andrey, aliran dana ke pasar ekuitas lebih merefleksikan daya tarik pertumbuhan ekonomi, prospek laba emiten, serta valuasi saham yang masih kompetitif. Sebaliknya, pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS secara global, perbedaan tingkat suku bunga, serta sentimen risiko global.
Dengan kondisi tersebut, investor asing dinilai masih dapat bersikap konstruktif terhadap pasar saham Indonesia, dengan tetap melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko nilai tukar.
: : Rupiah Melemah, Inflow Asing ke Saham Big Caps Dinilai Belum Solid
Namun, divergensi ini juga menunjukkan bahwa posisi investor asing saat ini bersifat selektif dan terkelola, bukan investasi jangka panjang tanpa perlindungan risiko.
“Kepercayaan terhadap fundamental Indonesia dalam jangka menengah masih terjaga, tetapi kondisi likuiditas global dan permintaan dolar AS membatasi penguatan rupiah dalam jangka pendek,” kata Andrey.
: : Ramalan Arah Reli IHSG Saat Kurs Rupiah Kembali Ambles
Ia menambahkan, kenaikan IHSG saat ini turut didukung oleh inflow asing, terutama ke saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid, serta diperkuat oleh likuiditas domestik yang solid.
Meski demikian, keberlanjutan inflow tersebut masih sangat bergantung pada dinamika global karena masih bersifat taktis, bukan struktural.
Dalam pengambilan keputusan investasi, lanjut Andrey, investor asing mempertimbangkan sejumlah faktor utama, mulai dari valuasi relatif dibandingkan negara selevel, visibilitas pertumbuhan laba, kredibilitas kebijakan moneter dan fiskal, likuiditas pasar, hingga ekspektasi pergerakan nilai tukar.
“Risiko valuta menjadi faktor kunci, karena potensi pelemahan rupiah dapat mengurangi imbal hasil bersih meskipun prospek saham tetap menarik,” ujarnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penguatan IHSG di tengah ketidakpastian global justru mencerminkan daya tahan pasar saham Indonesia.
“Hal ini membuktikan bahwa pasar Indonesia sangat kuat dan memberikan daya tarik di tengah tensi geopolitik yang terjadi saat ini,” kata Nico.
Menurutnya, penguatan IHSG menunjukkan kombinasi daya tarik valuasi dan ketahanan pasar, meskipun arus masuk investor asing belum sepenuhnya besar. Namun demikian, kepercayaan pasar dinilai mulai pulih.
“Kenaikan IHSG terlihat mulai berkelanjutan, didukung oleh fundamental dan sentimen yang baik. Kami melihat ruang penguatan IHSG masih akan terus berlanjut,” ujarnya.
INDONESIAN RUPIAH / U.S. DOLLAR – TradingView
Inflow Asing Bersifat Jangka Pendek
Di sisi lain, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai pelemahan rupiah di tengah reli IHSG mengindikasikan bahwa arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia masih bersifat jangka pendek dan oportunistik.
“Pelemahan rupiah di tengah reli IHSG menunjukkan investor asing masuk untuk memanfaatkan peluang jangka pendek, bukan karena keyakinan struktural terhadap ekonomi domestik,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Menurut David, kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir memang ditopang oleh masuknya dana asing. Namun, keberlanjutan tren tersebut masih sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga global, serta kinerja makroekonomi dan laba emiten domestik.
Dari sisi sektoral, pelemahan rupiah dinilai memberikan dampak yang beragam. Sektor berbasis ekspor dan komoditas seperti batu bara, mineral, serta crude palm oil (CPO) berpotensi diuntungkan seiring peningkatan nilai pendapatan dalam dolar AS. Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, seperti barang konsumsi dan ritel, serta emiten dengan porsi utang dolar yang besar, berisiko menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya dan risiko selisih kurs.
Untuk meredam dampak fluktuasi nilai tukar, emiten dinilai telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi, mulai dari lindung nilai valuta asing, penyesuaian struktur utang, hingga efisiensi biaya operasional. Selain itu, keseimbangan antara pendapatan dan beban dalam mata uang yang sama juga menjadi langkah penting untuk menekan risiko kurs.
Adapun dari sisi peluang investasi, David mencermati saham berbasis ekspor dengan neraca keuangan yang solid masih prospektif. Beberapa emiten yang dapat dicermati antara lain PT United Tractors Tbk. (UNTR), saham-saham komoditas seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), serta perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang dinilai relatif lebih resilien terhadap volatilitas rupiah.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.