BEI disarankan buka data 20 pemegang saham terbesar di tiap emiten

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana membuka data shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi. Saat ini, otoritas bursa sedang menyusun metodologinya dan belum menetapkan output datanya seperti apa.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menyarankan agar BEI membedah 20 pemegang saham dengan akumulasi paling besar di setiap saham emiten yang ada di pasar.

Output idealnya adalah daftar persentase kepemilikan kumulatif 20 pemegang saham teratas, bukan cuma yang lebih dari 5%, karena informasi yang diperlukan itu ultimate beneficial owner (UBO),” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).

Adapun, UBO atau Pemilik Manfaat Akhir adalah individu yang sebenarnya memiliki, mengendalikan, atau memperoleh manfaat terbesar dari suatu perusahaan, meskipun namanya tidak tercantum secara langsung sebagai pemegang saham atau direksi.

Wafi menilai, meskipun dalam jangka panjang transparansi yang dilakukan BEI bisa mencegah praktik manipulasi harga saham, pembukaan data shareholders concentration list menurutnya dalam jangka pendek bisa memancing investor ritel melakukan panic selling atau fear of missing out (fomo).

“Jadikan data ini sebagai filter risiko, bukan sinyal beli. Hindari saham dengan konsentrasi kepemilikan lebih dari 80% oleh segelintir pihak. Fokus ke saham dengan distribusi kepemilikan publik yang merata,” tandasnya.

: Banyak Saham Valuasi PER Tinggi, Masih Layak Investasi?

Sebelumnya, (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pembukaan data shareholders concentration list merupakan best practice yang dilakukan banyak bursa efek di negara-negara lain, salah satunya Hong Kong. 

Langkah BEI ini menjadi salah satu program aksi yang diajukan kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sebagaimana diketahui, lembaga pembuat indeks global ini meminta otoritas bursa Indonesia melakukan perbaikan transparansi pasar agar indeks saham Indonesia tidak turun kasta ke frontier market.

“Tentunya dengan implementasi ini akan lebih meningkatkan transparansi dan integrasi pasar kita ke depan,” ujarnya di Kantor BEI, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Ketika dipastikan apakah data shareholders concentration list tersebut akan memuat saham-saham yang diakumulasi konglomerat, Jeffrey menjelaskan output dari data itu memang belum diketahui hasilnya. Saat ini BEI sedang menyusun metodologinya, dan implementasinya ditargetkan mulai akhir Februari atau awal Maret 2026.

Output-nya itu belum, jadi kita tidak berangkat dari output-nya, tetapi kita berangkat dari metodologinya,” katanya.