BI rate turun, kredit konsumer berpotensi pulih bertahap pada 2026

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Tahun 2026 berpotensi menjadi fase pemulihan bertahap bagi kredit konsumer, ini seiring dengan tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan membaiknya ekspektasi konsumsi masyarakat, meski pertumbuhannya dinilai masih akan berlangsung secara selektif dan hati-hati.

Penyaluran kredit konsumsi di akhir 2025 lalu juga sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Tercermin dari data Bank Indonesia (BI) per November 2025 penyaluran kredit konsumsi meningkat 7,2% mencapai Rp 2.335,4 triliun. Capaian tersebut terlihat naik dari 6,9% di bulan sebelumnya.

Selain itu, BI mencatat, suku bunga kredit Rupiah mengalami penurunan secara bulanan, didukung relatif stabilnya suku bunga kredit baru.

Pada November 2025, rata-rata tertimbang suku bunga kredit Rupiah turun sebesar 4 bps menjadi 8,96% dari 9% di Oktober 2025, sedangkan suku bunga kredit baru cenderung stabil, hanya meningkat terbatas sebesar 1 bps menjadi 9,34%.

PPGI Nilai Bunga Gadai Belum akan Turun meski Suku Bunga BI Turun

Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, menilai pelonggaran suku bunga yang terjadi secara gradual akan memberikan dorongan positif terhadap penyaluran kredit konsumer pada 2026, meskipun belum mendorong ekspansi agresif.

“2026 berpotensi menjadi tahun pemulihan bertahap kredit konsumer dengan kontribusi positif terhadap pertumbuhan kredit total. Namun tetap diperlukan disiplin manajemen risiko dan pricing karena penurunannya masih pelan,” ujarnya kepada kontan.co.id, Rabu (14/1).

Ia menilai, KPR dan kredit kendaraan bermotor (KKB) akan menjadi segmen yang paling prospektif, sementara kredit tanpa agunan (unsecured loan) masih perlu dikelola secara hati-hati, meski diproyeksikan membaik dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk mendorong pertumbuhan kredit konsumer, Amin menekankan pentingnya strategi selective pricing, desain produk yang fleksibel, fokus pada segmen payroll-captive, first time home buyer, serta segmen affluent dan mass affluent.

Optimalisasi digital untuk scoring, onboarding, dan pre-approved loan, serta penguatan ekosistem dan cross selling juga menjadi kunci.

Bunga Kredit WOM Finance Tak Langsung Disesuaikan Meski Suku Bunga BI Turun

Optimisme serupa disampaikan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Consumer Lending Business Head Danamon, Enriko Sutarto, memperkirakan penyaluran kredit konsumer pada 2026 akan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, didukung meningkatnya konsumsi kelas menengah dan kondisi makro yang lebih kondusif.

“Permintaan terhadap produk kartu kredit, KPR, dan pembiayaan konsumtif lainnya diprediksi terus tumbuh. Target pertumbuhan kredit konsumer di 2026 kami jaga di atas 10% secara tahunan, dengan tetap fokus pada kualitas portofolio,” jelas Enriko.

Danamon memproyeksikan KPR/mortgage akan menjadi mesin utama pertumbuhan kredit konsumer pada 2026, seiring tren penurunan suku bunga yang membuat pembiayaan perumahan semakin terjangkau. 

Adapun per 30 September 2025, kredit konsumsi Danamon tercatat tumbuh 12% secara year-on-year mencapai Rp 22,52 triliun.

Dari sisi strategi, Danamon akan memperkuat produk KPR, kartu kredit, dan Dana Instant, didukung digitalisasi layanan serta sinergi dengan MUFG, Adira Finance, dan mitra strategis lainnya untuk membangun ekosistem finansial yang lebih holistik.

Sementara itu, PT Bank Permata Tbk juga tetap optimistis terhadap prospek kredit konsumer di 2026.

Perbankan Optimistis Nataru Akan Dongkrak Penyaluran Kredit Konsumer pada Akhir 2025

Division Head Consumer Lending Permata Bank, Haryanto, menilai permintaan pembiayaan konsumer akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, meski masih menghadapi tantangan daya beli.

“Untuk kredit konsumer kami memproyeksikan pertumbuhan sekitar 10%, meskipun realisasinya bisa berbeda di tiap segmen,” ujarnya.

Adapun per September 2025 lalu, penyaluran kredit konsumer Permata Bank terlihat susut 2,2% secara tahunan menjadi Rp 43,4 triliun.

Permata Bank melihat peluang pertumbuhan pada segmen kartu kredit, personal loan, KPR, dan kredit kendaraan bermotor. Perseroan juga aktif mendukung industri otomotif melalui pembiayaan kendaraan, termasuk dengan menjadi sponsor utama Gaikindo Jakarta Auto Week.

Dari bank besar, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga berharap momentum pemulihan kredit konsumer, khususnya KPR, berlanjut di 2026. EVP Consumer Loan BCA, Welly Yandoko, mengatakan realisasi KPR BCA pada akhir 2025 mulai membaik, terutama dari pembelian rumah dari developer yang memanfaatkan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP). 

Per September 2025, KPR BCA bertumbuh 6,4% secara YoY, walau demikian capaian ini terlihat ada penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 sebesar 10,7%.

“Kami berharap perbaikan KPR bisa berlanjut di 2026. Investor juga diharapkan kembali melirik properti sebagai instrumen investasi yang memberikan return menarik,” ujar Welly.

Ada Potensi Laju Kredit Konsumer Membaik

BCA akan terus mendorong penyaluran KPR melalui penawaran suku bunga spesial, event properti seperti BCA Expoversary 2026, serta penguatan digital end-to-end melalui platform rumahsaya.bca.co.id.

Adapun PT Bank CIMB Niaga Tbk cenderung lebih konservatif. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, memperkirakan pertumbuhan kredit konsumer tahun ini masih berada di kisaran 4%–5%, sangat bergantung pada perbaikan daya beli masyarakat.

“Jika daya beli belum membaik, segmen retail perseorangan akan paling terdampak. Karena itu, pertumbuhan akan kami dorong secara merata dan selektif,” kata Lani.

Per September 2025 lalu, penyaluran kredit konsumer CIMB Niaga mencapai Rp 77,14 triliun atau meningkat 4,3% secara tahunan dari periode sama tahun sebelumnya.