Bos BI bongkar pemicu harga emas meroket, investor global ramai tinggalkan dolar AS

RADARBISNIS – Lonjakan harga emas dunia yang kian tak terbendung akhirnya mendapat penjelasan langsung dari Bank Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkap, meroketnya harga emas hingga menembus US$ 5.000 per troy ounce bukan sekadar soal spekulasi, melainkan refleksi kepanikan global menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Dampaknya terasa langsung di dalam negeri. Harga emas domestik kini mendekati Rp 3 juta per gram, level yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan.

Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Kembali ke Emas

Menurut Destry, reli harga emas dipicu perubahan besar dalam strategi lindung nilai global. Banyak bank sentral yang sebelumnya menyimpan cadangan dalam bentuk dolar AS dan surat utang Amerika Serikat, kini mulai mengalihkan kembali asetnya ke emas.

“Mereka pegang USD bonds lalu lari lagi ke emas. Makannya emas naik lebih dua kali lipat dalam 1 tahun,” paparnya dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2), dikutip dari CNBC Indonesia.

Perpindahan ini menandai pergeseran kepercayaan global—dari instrumen keuangan berbasis dolar menuju aset lindung nilai paling klasik: emas.

Investor Tak Loyal, Hanya Mengejar Imbal Hasil

Destry menegaskan, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, loyalitas investor bukan lagi pada negara atau mata uang tertentu, melainkan pada tingkat keuntungan.

“Tidak ada (investor) yang loyal, hanya loyal pada return,” ujarnya lugas.

Kondisi ini membuat arus modal global bergerak cepat dan agresif, berpindah dari satu aset ke aset lain dalam waktu singkat. Emas pun menjadi tujuan utama ketika risiko global meningkat.

Rupiah Tertekan, Tapi Mulai Menemukan Titik Tenang

Tekanan global tersebut ikut membebani nilai tukar rupiah. Namun, BI mencatat adanya sinyal pemulihan dalam beberapa hari terakhir, setelah sebelumnya pasar terguncang laporan MSCI.

“Hari ini Rp 16.700-an. Dua hari lalu saat MSCI ada laporan dan gejolak. Ada apa ini? Tapi ada bold communication dari pemerintah dan regulator membuat market confidence lagi,” kata Destry.

Menurutnya, komunikasi kebijakan yang tegas dan konsisten menjadi kunci meredam kepanikan dan mengembalikan kepercayaan pelaku pasar.

Strategi BI: Intervensi Cerdas Jaga Stabilitas

Menghadapi tekanan arus keluar modal (outflow), BI menegaskan tidak tinggal diam. Otoritas moneter terus melakukan smart intervention di berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Saat ada outflow BI lakukan. Intervensi agar menjaga kestabilan. Kami di BI berusaha mempertahankan aset rupiah memberikan return menarik dengan fundamental yang bagus ditambah policy pemerintah dengan info yang clear dan itu semua memberikan confidence di pasar,” ujar Destry.

Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)—langkah yang dirancang untuk menjaga keseimbangan pasar tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan.

Emas Jadi Cermin Ketidakpastian Dunia

Lonjakan harga emas, menurut BI, bukan sekadar fenomena komoditas. Ini menjadi cermin kecemasan global—tentang arah suku bunga, geopolitik, hingga kepercayaan terhadap sistem keuangan internasional.

Ketika dunia mencari perlindungan, emas kembali menjadi raja. Dan selama ketidakpastian itu bertahan, reli harga emas tampaknya belum akan mudah mereda. (*)