
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Tekanan di pasar saham membuka peluang pergeseran dana investor ke aset lindung nilai seperti emas.
Untuk diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 16,7% dalam dua hari terakhir, setelah MSCI memperingatkan adanya kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.
Bank investasi global Goldman Sachs dan UBS juga menurunkan rekomendasi saham Indonesia. Kondisi ini bahkan memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian perdagangan sementara (trading halt).
Persaingan Ritel Ketat, Intip Prospek dan Rekomendasi Aspirasi Hidup (ACES) di 2026
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, ketika pasar saham tertekan hingga memicu penghentian sementara perdagangan, investor cenderung mengurangi porsi aset berisiko tinggi dan mencari instrumen yang lebih aman serta likuid.
Dalam konteks di Indonesia, tekanan pasca pengumuman MSCI bukan hanya berdampak pada penurunan harga jangka pendek, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian terkait kelanjutan arus dana yang mengikuti indeks.
MSCI menerapkan pembekuan sementara untuk penambahan dan penyesuaian tertentu sambil menunggu perbaikan transparansi dan struktur kepemilikan. Bahkan ada risiko peninjauan ulang status akses pasar jika progresnya tidak memadai hingga sekitar Mei 2026.
“Investor cenderung mengurangi porsi aset yang pergerakannya sangat naik turun dan mencari tempat parkir yang dianggap lebih aman serta mudah dicairkan,” ujar Josua kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).
Jika skenario penurunan status indeks benar terjadi, potensi arus keluar dana dinilai bisa membesar, sehingga perilaku defensif investor semakin meningkat.
“Situasi seperti ini membuat sebagian investor, terutama yang sensitif pada isu likuiditas dan kepastian aturan, memilih mengurangi eksposur dulu,” lanjutnya.
Di saat yang sama, emas justru memperoleh dukungan kuat dari sisi global. Permintaan emas dunia dilaporkan menembus rekor seiring meningkatnya arus masuk ke produk investasi emas serta pembelian emas batangan dan koin.
Kinerja Merdeka Battery (MBMA) Dipengaruhi Harga Nikel, Cek Rekomendasi Sahamnya
Harga emas Antam Logam Mulia Kamis (29/1/2026) berada di Rp 3.168.000 atau melonjak Rp 165.000 dalam sehari. Sejalan dengan itu, harga emas di pasar spot kini menyentuh US$ 5.550,02 atau naik 98,49% secara tahunan.
Faktor pendorongnya antara lain ketegangan geopolitik, dorongan diversifikasi dari dolar AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga global yang lebih longgar.
Meski demikian, Josua mengingatkan dana yang keluar dari pasar saham tidak otomatis seluruhnya mengalir ke emas.
Investor asing yang mengurangi porsi saham Indonesia bisa saja mengalihkan dana ke pasar saham negara lain, menambah porsi kas, atau memilih surat utang yang dinilai lebih stabil.
Perpindahan ke emas lebih banyak terlihat pada investor ritel dan sebagian investor institusi yang memang telah menyiapkan porsi lindung nilai dalam portofolionya.
Namun, di sisi lain Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual justru berpandangan pergerakan harga emas dan dinamika pasar saham saat ini digerakkan oleh isu yang berbeda.
“Tidak ada kaitan sebenarnya. Harga emas naik karena kekhawatiran terhadap aksi Trump akhir-akhir ini terkait isu geopolitik dan tarif, sedangkan pasar modal domestik lebih terkait isu MSCI,” ujar David kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).
OJK Akan Berkantor di Gedung BEI Imbas IHSG Anjlok Dua Hari Beruntun
Menurut David, meski tekanan di pasar saham memicu aksi panic selling, hal tersebut tidak serta-merta mendorong perpindahan dana secara signifikan ke emas.
Pasalnya, karakter investor di kedua instrumen tersebut berbeda. “Pemainnya beda,” tegas David.
Tapi dia menambahkan, masih ada kemungkinan perpindahan dana dari saham ke emas, hanya saja bersifat terbatas.