
Ussindonesia.co.id – Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara mengejutkan membekukan evaluasi indeks saham Indonesia sampai Mei 2026. MSCI menyoroti kurang transparannya struktur kepemilikan saham dan ketakutan terhadap kemungkinan perilaku perdagangan yang merusak pembentukan harga tepat.
Direktur Ekonomi Evident Institute, Rijadh Djatu Winardi menilai, kebijakan MSCI ini tidak sebatas pada hal negatif. Kebijakan ini bisa diartikan untuk mengurangi index turnover sekaligus menekan risiko investability di pasar Indonesia.
“Mereka memberi ruang bagi otoritas domestik untuk menghadirkan perbaikan, khususnya dalam aspek transparansi. Dan ini kan bukan kali pertama MSCI memberikan masukan bagi pasar modal Indonesia. Di bulan Oktober 2025, MSCI sudah meminta perbaikan data emiten,” kata Rijadh, Kamis (29/1).
MSCI meminta agar pelaku pasar terkait penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam menghitung free float saham emiten.
“Permintaan itu disampaikan secara terbuka. Jika sekarang tidak dipatuhi ya wajar mereka ngambek. Dan ngambeknya kan dilakukan secara terbuka dan jelas. Jadi ketika ada rencana pembekuan sementara sejumlah perubahan indeks untuk saham-saham Indonesia, harusnya kita tak perlu kaget,” imbuhnya.
Miris Guru di Pamulang Dipolisikan Karena Nasihati Murid, Komisi X DPR Desak Penyelesaian Restorative Justice
Rijadh menilai, kekhawatiran MSCI masih bisa dipahami. Terlebih terkait kekhawatiran transparansi kepemilikan saham yang bisa berujung pada penetapan harga yang tepat.
“Secara tak langsung MSCI menyoroti fenomena saham gorengan di pasar modal kita. Hal yang sebetulnya sudah menjadi perhatian banyak pihak karena rentan membuat penurunan tingkat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia,” jelasnya.
Kebijakan MSCI berdampak secara langsung terhadap sejumlah saham milik konglomerat dan Big Caps a.l Kelompok bisnis milik Prajogo Pangestu yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun hingga Auto Reject Bawah (ARB) 14,81% ke Rp 2.300 sementara PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) melemah hingga 11,84% ke Rp 8.375.
Bukan Sekadar Motor Tua, Ini Alasan Yamaha RX King Tetap Mahal dan Diminati, Ini Harganya
Kemudian bisnis milik Prajogo Pangestu yang lain Grup Chandra Asri yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 5% ke Rp 6.650 sedangkan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) anjlok 12,14% ke Rp 1.230.
Kelompok Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 11,58% ke Rp 1.145 sedangkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 14,53% ke Rp 294, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 9,42% ke Rp 125 dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyentuh ARB 14,97% ke Rp 1.420.
Kelompok ‘Happy’ Hapsoro Sukmonohadi yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) turun ARB 15% ke Rp 1.445, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melemah 15% ke Rp 4.590, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) anjlok 14,97% ke Rp 6.250.
Kelompok Sugianto Kusuma alias Aguan yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) terkoreksi 14,89% ke Rp 9.575 dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turun 14,68% ke Rp 6.250
MSCI menegaskan jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan maka mereka akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia, dan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
“Sekali lagi kemarahan MSCI ini jika ditanggapi dengan baik, akan memberikan hal yang baik bagi Indonesia,” pungkas Rijadh.
Seperti diketahui MSCI pada 28 Januari 2026 mengumumkan sejumlah hal a.l. pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), pembekuan perubahan pada Number of Shares (NOS), penundaan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan Pembekuan perpindahan saham antar segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.