
Ussindonesia.co.id SINGAPURA. Bank investasi global Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks MSCI menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air. Langkah ini dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menurunkan peringkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight. Analis Goldman menilai keputusan MSCI tersebut akan menjadi sentimen negatif yang membebani kinerja pasar saham Indonesia ke depan.
“Kami memperkirakan aksi jual pasif masih akan berlanjut dan perkembangan ini menjadi hambatan bagi pergerakan pasar,” tulis Goldman Sachs dalam risetnya.
Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI & Emas Rekor, Cek Rekomendasi Saham Ini
Sehari sebelumnya, MSCI membekukan pembaruan sejumlah saham Indonesia dalam produk indeksnya untuk meredam risiko yang disebut sebagai “investability risk”. MSCI juga memperingatkan Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier jika persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.
Sentimen negatif ini langsung memukul pasar. IHSG ambruk 7,35% pada perdagangan Rabu (28/1/2026), mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025.
Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia bisa mencapai US$ 2,2 miliar hingga US$ 7,8 miliar pasca-penilaian MSCI tersebut.
Tekanan jual asing juga sudah terjadi sejak tahun lalu. Sepanjang 2025, investor asing mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia sebesar Rp13,96 triliun, menjadi arus keluar terbesar sejak 2020.
Penetrasi Fixed Broadband Belum Optimal, Simak Rekomendasi Saham Telekomunikasi
Aksi jual tersebut masih berlanjut hingga Januari 2026, berdasarkan data LSEG.
Pemerintah pun mulai merespons. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan segera menggelar pertemuan untuk membahas isu MSCI dan dampaknya terhadap pasar keuangan Indonesia.
.