Harga emas tembus US$ 5.000 per ons, yen menguat karena kekhawatiran intervensi

Ussindonesia.co.id  SINGAPURA. Harga emas melampaui level US$ 5.000 per ons pada perdagangan Senin (26/1/2026), terdorong oleh aliran modal ke aset aman seiring melemahnya dolar AS. 

Lonjakan ini terjadi setelah pekan sebelumnya pasar global terguncang oleh ketegangan geopolitik terkait Greenland dan Iran, sementara investor tetap waspada terhadap pergerakan tajam yen.

Yen Jepang menguat lebih dari 1% ke level 153,99 per dolar AS pada pukul 04.27 GMT, setelah lonjakan tajam pada Jumat lalu memicu spekulasi kemungkinan intervensi mata uang. 

Harga Emas Tembus US$ 4.000, Perak Cetak Rekor Baru di Tengah Guncangan Global

Sumber Reuters menyebutkan bahwa Federal Reserve New York melakukan pemeriksaan suku bunga pada Jumat, meningkatkan peluang intervensi bersama antara AS dan Jepang untuk menahan pelemahan yen.

“Pasar cenderung melakukan short terhadap yen, namun kemungkinan koordinasi membuat taruhan satu arah tidak lagi berlaku,” ujar Prashant Newnaha, senior rates strategist TD Securities di Singapura.

Kekhawatiran akan intervensi untuk mendukung yen menekan dolar AS dan secara luas mengangkat mata uang lainnya. 

Sementara itu, pasar saham global menunjukkan pelemahan: indeks Nikkei Jepang turun sekitar 2%, futures S&P 500 turun 0,25%, dan futures Eropa melemah 0,27% seiring investor menunggu pertemuan Federal Reserve akhir pekan ini.

Presiden AS Donald Trump sempat memberikan sedikit kelegaan bagi pasar pekan lalu dengan membatalkan ancaman tarif dan meredakan potensi tindakan keras terhadap Greenland. 

Namun, tekanan AS yang meningkat terhadap Iran justru memperkuat kecemasan investor. Sanksi tambahan terhadap Iran mendorong harga minyak naik, sekaligus mengangkat emas sebagai aset aman ke level rekor.

Logam mulia lainnya, termasuk perak, juga mengalami kenaikan signifikan sejak awal tahun, didorong pula oleh dolar yang lebih lemah.

Rekor Anyar, Harga Emas Tembus US$ 4.000 per troi ons untuk Pertama Kalinya

Meskipun pihak berwenang di Tokyo menolak berkomentar terkait fluktuasi tajam yen, sumber Reuters menyebut adanya pemeriksaan suku bunga pada Jumat, sehingga trader tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi yang bisa terjadi kapan saja.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan pada Minggu bahwa pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi pergerakan spekulatif di pasar. 

Carlos Casanova, senior Asia economist UBP, menilai bahwa ekspektasi intervensi itu sendiri sudah cukup untuk memperkuat yen.

“Yen kemungkinan akan stabil dalam batas tertentu, meskipun katalis untuk apresiasi signifikan terbatas. Sementara itu, imbal hasil jangka panjang diperkirakan tetap mendapat tekanan pada level tinggi saat ini,” kata Casanova.

Pasar obligasi Jepang mengalami gejolak pekan lalu, menyoroti kebijakan fiskal ekspansif Takaichi menjelang pemilihan mendadak pada 8 Februari. Meski pasar obligasi kini mulai menenangkan diri, investor tetap waspada. 

Pada Senin, yen juga menguat terhadap mata uang lain, menjauh dari level terendah terhadap euro, franc Swiss, dan poundsterling dalam beberapa dekade.

Rekor Baru! Harga Emas Tembus US$3.977 per Ons Selasa (7/10) Pagi

Charu Chanana, chief investment strategist Saxo, menambahkan bahwa peringatan ala “rate-check” ini bisa membantu mengatur ulang posisi pasar dan mengingatkan investor bahwa ada batas pergerakan di sekitar level 159–160. 

“Dengan dolar mulai terlihat lebih lemah, ini menjadi kesempatan yang lebih bersih bagi Jepang untuk menahan pelemahan yen. Intervensi bekerja lebih efektif ketika sejalan dengan tren dolar, bukan melawannya,” ujarnya.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, turun 0,2% ke level terendah empat bulan di 96,996 setelah sebelumnya anjlok 0,8% pada Jumat, mencatat penurunan satu hari terbesar sejak Agustus.

Selain pergerakan mata uang, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan Federal Reserve pekan ini.

Harga Emas Mendekati US$ 4.000, Siap Catat Kenaikan Mingguan Kedelapan

The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, meski pertemuan ini dibayangi oleh penyelidikan kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Mei.

Di sisi komoditas, harga minyak relatif stabil setelah naik sekitar 3% pada Jumat lalu, seiring pedagang mempertimbangkan dampak tekanan AS terhadap Iran melalui sanksi terhadap kapal pengangkut minyak.

Brent crude futures berada di $65,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS berada di US$ 61,10 per barel.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap dolar, dan potensi intervensi mata uang menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar global, dengan emas dan yen menjadi sorotan investor sebagai aset aman di tengah gejolak pasar.