Emiten grup ritel produk lokal, Hypefast, bidik IPO pada 2027

Emiten ekosistem ritel produk lokal Indonesia, PT Hypfast Karya Nusantara (Hypefast), menyatakan siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) pada pertengahan tahun 2027.

Langkah tersebut dibarengi dengan peluncuran identitas korporasi baru serta penegasan posisi bisnis Hypefast sebagai infrastruktur ritel terintegrasi bagi brand lokal, bukan sekadar brand aggregator.

Founder dan CEO Hypefast, Achmad Alkatiri, Hypefast mengatakan perseroan model bisnis end-to-end dengan kontrol penuh atas rantai nilai, mulai dari manufaktur, distribusi, hingga pemasaran langsung ke konsumen. Menurutnya, kesiapan IPO ditopang oleh fundamental bisnis yang semakin solid.

“Di sisi operasional, Hypefast memperkuat lini manufaktur internal guna meningkatkan kecepatan produksi (speed-to-market) dan efisiensi margin. Pada aspek distribusi, jaringan offline Hypefast telah menjangkau lebih dari 10.000 titik penjualan di seluruh Indonesia,” ujar Alkatiri dalam keterangannya, Senin (26/1).

Selain itu, pada awal 2026 perusahaan meluncurkan platform e-commerce direct-to-consumer (D2C) untuk masing-masing brand yang dilengkapi fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), guna mengurangi ketergantungan pada platform marketplace. Hypefast saat ini didukung sekitar 150 talenta ritel yang mengelola operasional brand secara terpusat dari kantor pusat.

Alkatiri mengatakan, transformasi tersebut dirancang untuk menjawab dinamika pasar Gen Z dan milenial yang bergerak cepat. Menurutnya, pertumbuhan jangka panjang membutuhkan infrastruktur operasional yang efisien dan adaptif, bukan sekadar mengandalkan momentum viral.

“Melalui rebranding dan inisiatif pemasaran berbasis komunitas tersebut, Hypefast berharap dapat memperkuat posisi sebagai grup ritel modern berbasis teknologi dengan ekosistem terintegrasi, sekaligus meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor menjelang rencana IPO 2027,” tambahnya.