
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Aliran dana investor asing ke pasar saham Indonesia terancam menguap usai Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan saham Indonesia dalam rebalancing Februari 2026. Selain itu, MSCI berisiko menurunkan ‘kasta’ saham Indonesia dari status emerging markets menjadi frontier market bila otoritas bursa tak segera melakukan perbaikan.
Melansir Bloomberg, Manajer portofolio di Franklin Templeton Global Investments, Yiping Liao mengatakan apabila Indonesia diturunkan peringkatnya, dampaknya terhadap aliran dana akan signifikan.
“Partisipasi asing di pasar Indonesia telah berkurang secara signifikan karena kekhawatiran terhadap makro dan kebijakan. Tanpa mengasumsikan perubahan lain di sekitarnya, ini jelas bukan hal yang positif,” ujar Liao, Rabu (28/1/2026).
Hasil keputusan MSCI tersebut menambah sentimen negatif di pasar saham Tanah Air, usai kekhawatiran investor global mengenai arah perekonomian Indonesia yang mulai rapuh menyusul upaya Presiden Prabowo Subianto mengarahkan kebijakan fiskal dan moneter menuju target pertumbuhan yang diinginkan Prabowo.
Sementara itu, kepala perdagangan prime brokerage di Maybank Securities Singapura Tareck Horchani menyoroti fenomena saham-saham Indonesia di perdagangan hari ini yang terjun bebas. Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini di akhir sesi I perdagangan ambles 7,34% ke 8.321,22.
: Saham ANTM, AMMN, BRMS Cs Dibanting MSCI Meski Harga Emas Rekor US$5.200
Terpantau hingga sesi I perdagangan hari ini, saham-saham berkapitalisasi besar kompak terjun bebas. Misalnya, BREN turun 14,47%, BBCA tergerus 4,33%, DSSA terjun 15%, CUAN turun 13,76%, sampai AMMN yang turun 10,90%.
“Pembekuan oleh MSCI adalah tembakan peringatan, bukan putusan akhir. Pasar sudah mulai memperhitungkan sebagian kemungkinan hasil negatif, yang menjelaskan tekanan yang kita lihat pada saham-saham Indonesia berbobot indeks,” ujarnya seperti diberitakan Bloomberg.
Menilik statistik Bursa Efek Indonesia pada penutupan perdagangan Selasa (27/1/2026), tercatat net sell asing sebesar Rp1,61 triliun, memangkas capaian net buy asing sejak awal tahun menjadi tersisa Rp2,45 triliun. Dalam sehari perdagangan itu, nilai transaksi jual investor asing di pasar saham mencapai Rp10,54 triliun.
Adapun, pada 27 Januari 2026 MSCI mengumumkan hasil konsultasi mengenai pembahasan rebalancing saham-saham Indonesia. Pertama, MSCI akan membekukan semua peningkatan pada foreign inclusuion factor (FIF) dan number of shares (NOS).
Kedua, MSCI tidak akan menerapkan penambahan indeks pada pada MSCI Investable Market Index (IMI). Ketiga, MSCI tidak akan menerapkan migrasi ke atas di seluruh indeks segmen ukuran, termasuk dari MSCI Indonesia Small Cap ke MSCI Indonesia Global Standard.
: Saham DSSA, BUVA, RAJA Paling Boncos ARB 15% Saat IHSG Jeblok Hari Ini (28/1)
Perlakuan ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko perputaran indeks dan kemampuan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk memberikan peningkatan transparansi yang berarti.
Jika kemajuan yang tidak memadai untuk mencapai peningkatan transparansi yang diperlukan pada Mei 2026, MSCI akan menilai kembali status aksesibilitas pasar Indonesia. Hal ini akan tergantung pada konsultasi pasar. MSCI menjabarkan, kondisi tersebut dapat mengakibatkan pengurangan bobot dalam MSCI emerging markets indeks untuk semua sekuritas Indonesia.
“Kedua, potensi reklasifikasi Indonesia dari status emerging markets menjadi frontier market. MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia dan berinteraksi dengan pelaku pasar dan otoritas, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. MSCI akan mengkomunikasikan tindakan lebih lanjut jika diperlukan,” tulis MSCI.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.