Valas Asia bergerak beragam pada perdagangan perdana tahun 2026

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Valuta asing (valas) Asia bergerak bervariasi pada awal tahun 2026. Sebagian mata uang menguat, sebagian lagi terkoreksi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).  

Mengutip Bloomberg Jumat (2/1/2026) pukul 16.00 WIB, baht Thailand (THB) menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia yakni menguat 0,61% ke level 31,39. Yuan China (CNY) menguat 0,10% ke 6,98, ringgit Malaysia menguat 0,03% ke 4,057. 

Rupee India (INR) terkoreksi 0,28% ke 90,22 dan yen Jepang (JPY) terkoreksi 0,11% ke level 156,92. Sementara itu, won Korea Selatan (KRW) menurun 0,11% ke 1.446,14, dan dolar Hongkong (HKD) terkoreksi 0,09% ke 7,791. Sedangkan, dolar Taiwan (TWD) terkoreksi 0,27% ke level 31,41.  

OJK Bakal Sesuaikan Batas Free Float Saham Secara Bertahap Mulai Tahun 2026

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan JPY dan TWD memang hanya murni disebabkan oleh penguatan indeks dolar AS hari ini. JPY masih tertekan oleh carry traders, dengan investor masih tidak yakin apabila Bank of Japan (BoJ) mampu kembali menaikkan suku bunga seperti yang diharapkan. 

Sedangkan TWD hanya secara perlahan kembali ke level pre tariff, sebagai negara yang sangat bergantung pada ekspor, Taiwan menginginkan mata uang mereka kompetitif namun juga stabil. THB masih terjadi tarik ulur, dengan Bank sentral dan pemerintah Thiland yang terus berusaha menahan penguatan mata uang mereka, namun permintaan kuat dari perdagangan emas di Thailand yang dituding pemerintah sebagai sebab penguatan Baht yang non fundamental. 

“Sepekan depan tentunya pelaku pasar mengantisipasi data Non-Farm Payrolls (NFP) AS. Situasi geopolitik di Laut China Selatan juga masih akan menjadi perhatian,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (2/1/2026). 

Awal Tahun 2026, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.725 per Dolas AS

Lukman menilai tidak ada mata uang Asia yang spesifik perlu dicermati minggu depan. Menurutnya, KRW mungkin masih bisa melanjutkan penguatan oleh sentimen dari inflow dana pensiun. JPY yang tidak jauh dari level terendah dalam 9 bulan berpotensi berbalik menguat oleh intervensi BoJ. TWD masih akan secara perlahan melemah dan kembali ke level pre-tariff. Dan CNY yang melewati level 7, terkuat lebih dari 1,5 tahun oleh permintaan perusahaan domestik. Ada kemungkinan People’s Bank of China (PBoC) akan masuk intervensi. 

Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures memproyeksikan resistance USDTHB dalam sepekan ke depan di level 31,50. Sedangkan USDMYR dalam perdagangan mingguan mencoba bertahan di bawah 4,1000 per dolar AS. 

Sementara pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah sepekan ke depan bergerak pada rentang Rp 16.680 – Rp 16.900 per dolar AS.