Ringkasan Berita:
- BI menegaskan jagung sebagai komoditas strategis karena perannya dalam swasembada pangan nasional dan pakan unggas, dengan kontribusi Sulampua mencapai 13,9 persen produksi jagung nasional.
- Rantai nilai jagung masih menghadapi kendala di tingkat petani (lahan, iklim, akses modal) dan industri (pasokan tidak stabil, kualitas bahan baku), sehingga efisiensi belum optimal.
- BI merekomendasikan pembangunan infrastruktur pascapanen, penguatan kelompok tani
Ussindonesia.co.id – Bank Indonesia (BI) se-wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) memperkuat langkah mendorong swasembada dan hilirisasi pangan melalui Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Sulampua serta diseminasi riset strategis rantai nilai jagung.
Dua agenda tersebut digelar di Gorontalo sebagai bagian dari upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan yang inklusif dan berkelanjutan.
Rakorwil Sulampua bertema “Swasembada dan Hilirisasi Pangan di Sulampua” dilaksanakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, dan dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, Rabu (11/2/2026).
Kegiatan ini menjadi wujud komitmen mendukung agenda swasembada dan hilirisasi pangan.
Dalam forum tersebut disepakati bahwa swasembada pangan perlu diwujudkan melalui strategi diversifikasi, intensifikasi, dan ekstensifikasi sumber daya pangan.
Sementara itu, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong kesejahteraan petani dan pelaku usaha sektor pangan.
Dari sisi struktur ekonomi, kawasan Sulampua memiliki peran signifikan sektor pertanian dengan pangsa mencapai 20,23 persen, terutama dari subsektor pertanian dan perikanan.
Pertumbuhan sektor pertanian juga tercatat positif sebesar 4,76 persen (yoy) pada triwulan III 2025.
Tren pemulihan ekonomi pascapandemi dinilai menjadi peluang mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi kawasan dengan tetap menjaga prinsip inklusivitas.
Namun demikian, BI menilai masih terdapat sejumlah tantangan hilirisasi, seperti keterbatasan kapasitas produksi dan minimnya fasilitas pascapanen.
Berdasarkan asesmen BI di Sulampua, komoditas prioritas yang perlu didorong hilirisasinya meliputi beras, cabai, bawang merah, perikanan, dan jagung.
Untuk mengatasi berbagai bottleneck tersebut, BI mendorong tiga fokus penguatan utama, yakni integrasi sisi hulu hingga hilir agar rantai nilai lebih efisien, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui literasi serta kapabilitas digital, serta penguatan sinergi lintas pihak antara pemerintah daerah, BI, dan otoritas terkait guna memastikan implementasi kebijakan berjalan optimal.
Sejalan dengan Rakorwil, BI juga melakukan diseminasi riset bertajuk “Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua” yang melibatkan BI Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, pelaku usaha jagung, serta kalangan akademisi.
Riset tersebut menegaskan bahwa jagung memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada pangan nasional karena menjadi komponen utama pakan unggas.
Secara nasional, Sulampua merupakan produsen jagung terbesar ketiga setelah Jawa dan Sumatera, dengan kontribusi sekitar 13,9 persen produksi nasional.
Provinsi Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah menjadi kontributor utama produksi jagung kawasan.
Meski demikian, rantai nilai jagung di Sulampua masih menghadapi berbagai tantangan.
Di tingkat petani, kendala meliputi keterbatasan lahan, risiko iklim, kualitas produksi, dan akses modal. Sementara di sisi pengepul dan industri, persoalan utama berupa ketidakstabilan pasokan serta kualitas bahan baku yang berdampak pada efisiensi operasional.
Sebagai solusi, riset BI mengidentifikasi lima prioritas strategi penguatan rantai nilai jagung.
Pertama, pembangunan infrastruktur pascapanen terintegrasi seperti dryer dan gudang komunal untuk meningkatkan kualitas dan harga jual.
Kedua, penguatan peran kelompok tani dan gapoktan sebagai aggregator guna memperkuat posisi tawar petani.
Ketiga, peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih hibrida dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Keempat, penguatan kemitraan berbasis kontrak kualitas antara petani dan industri pakan.
Kelima, peningkatan literasi dan kapasitas teknologi pertanian melalui sekolah lapang jagung dan klinik agribisnis.
Melalui rangkaian Rakorwil dan diseminasi riset tersebut, BI berharap rekomendasi kebijakan yang implementatif dapat diterapkan di setiap provinsi di Sulampua.
Upaya ini diharapkan mampu memperkuat swasembada pangan, mempercepat hilirisasi komoditas strategis, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian kawasan. (*)