Simak prospek saham yang kena rebalancing MSCI Indonesia periode Maret 2026

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Di tengah peringatan MSCI ke pasar saham Tanah Air, penyedia indeks global itu melakukan rebalancing terhadap beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode Maret 2026.

Dalam pengumuman pada Selasa (10/2) malam, MSCI menyebut bahwa perubahan tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026 dan efektif berlaku mulai 2 Maret 2026. 

Pada hasil rebalancing kali ini, ada satu saham Indonesia yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes, yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). MSCI lalu memasukan INDF ke kategori MSCI Small Cap Indexes. 

Di MSCI Small Cap Indexes, terdapat dua saham yang dikeluarkan. Yaitu, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO).

Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia mengatakan, untuk periode ini, MSCI di periode ini hanya melakukan penghapusan saham dan perpindahan antarsegmen, tanpa adanya penambahan konstituen baru.

“Dampak dari pengumuman MSCI ini bisa jadi ada peralihan di masa rebalancing, terutama bagi asset management yang menggunakan MSCI sebagai patokan investasi mereka,” katanya kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi melihat, dampak dari aksi rebalancing MSCI kali ini adalah aliran arus dana asing.

MSCI Turunkan INDF ke Small Cap dan Mendepak ACES & CLEO, Ini Kata Analis

Sebagai gambaran, hari ini (11/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,96% ke 8.290 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, aliran dana asing hari ini tercatat keluar Rp 366,64 miliar di pasar reguler dan Rp 526,62 miliar di seluruh pasar.

Hal ini juga diamini Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana. Katanya, dana pasif global yang berbasis indeks wajib melakukan penyesuaian portofolio. Artinya, akan ada potensi outflow dari saham yang turun kelas atau keluar indeks, terutama menjelang tanggal efektif. 

Sementara, tekanan ke IHSG akan terasa dalam jangka pendek. Sebab, saham-saham tersebut cukup berarti dalam perhitungan indeks dan aliran dana asing. 

“Namun perlu dipahami, ini lebih merupakan arus dana mekanis, bukan cerminan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Rebalancing MSCI Februari 2026 juga dinilai Hendra menjadi salah satu katalis global yang kembali mengguncang psikologis pasar domestik. 

Sebab, sebelumnya MSCI sempat melakukan interim freeze terhadap evaluasi pasar Indonesia karena mempertimbangkan dinamika reformasi pasar, termasuk isu free float dan stabilitas mekanisme perdagangan. 

MSCI Rebalancing Emiten Indonesia Periode Maret 2026, Ini Penjelasan BEI

Namun, interim freeze tersebut bukan berarti penghentian total review, melainkan penundaan penyesuaian besar sampai ada kejelasan lebih lanjut. 

“Pada akhirnya, MSCI tetap menjalankan siklus review reguler Februari 2026 dengan melakukan penyesuaian komposisi indeks,” ungkapnya.

Hendra melihat, untuk INDF, keputusan MSCI didorong faktor teknis, seperti likuiditas relatif, penyesuaian bobot sektor consumer secara global, serta dinamika free float efektif. Artinya, hal itu bukan karena penurunan fundamental drastis. 

Secara bisnis, Indofood tetap memiliki model usaha terintegrasi dari hulu ke hilir, kekuatan merek yang dominan, serta karakter defensif di tengah tekanan daya beli. 

“Justru dalam kondisi ekonomi yang fluktuatif, sektor consumer staples cenderung lebih stabil,” ungkapnya.

Sentimen positif INDF ke depan datang dari potensi stabilisasi harga komoditas bahan baku, efisiensi operasional, serta pemulihan konsumsi domestik pasca kepastian politik.

Sementara, sentimen negatifnya diakibatkan oleh tekanan margin jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergejolak dan pelemahan daya beli kelas menengah berlanjut. 

Hasil Pertemuan Kedua dengan MSCI:BEI Bakal Terbitkan Shareholders Concentration List

Hendra merekomendasikan akumulasi INDF di area Rp 6.450 – Rp 6.500 per saham, dengan target harga Rp 7.400 per saham.

Untuk ACES, keluarnya dari MSCI Small Cap berpotensi menekan harga dalam jangka pendek. Sebab, porsi kepemilikan dana indeks relatif cukup terasa pada saham berkapitalisasi menengah. 

Namun secara fundamental, ACES masih bertumpu pada ekspansi gerai, transformasi omni channel, serta potensi perbaikan konsumsi rumah tangga. 

Tantangan untuk ACES berasal dari persaingan ritel modern dan tekanan daya beli yang belum sepenuhnya pulih. “Jika konsumsi domestik membaik di semester kedua 2026, ACES berpeluang mencatat pertumbuhan penjualan yang lebih solid,” ungkapnya.

Hendra merekomendasikan trading buy untuk ACES dengan target harga Rp 450 per saham.

Sementara itu, CLEO memiliki permintaan air minum relatif stabil dan defensif, dengan ekspansi distribusi yang terus diperluas. Namun, kapitalisasi pasar dan likuiditas yang lebih kecil membuat CLEO sensitif terhadap perubahan indeks global. 

Keluarnya dari MSCI Small Cap berpotensi memicu tekanan jual jangka pendek dari dana pasif. 

Ini Tanggapan OJK Soal Rebalancing MSCI Indonesia Periode Maret 2026

Sentimen positif untuk CLEO di tahun ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi dan penetrasi pasar di luar Jawa masih menjadi ruang ekspansi. Sementara, sentimen negatif berasal dari kompetisi harga dan biaya distribusi. 

Hendra merekomendasikan speculative buy untuk CLEO dengan target harga Rp 480 per saham.

Senada, Wafi memandang, prospek fundamental INDF dan ACES tetap solid, karena momentum Hari Raya Idul Fitri. Sementara, CLEO memiliki tantangan likuiditas, meskipun punya pertumbuhan kinerja yang tetap terjaga.

Wafi pun merekomendasikan buy on weakness untuk INDF, ACES, dan CLEO dengan target harga masing-masing Rp 7.400 per saham, Rp 500 per saham, dan Rp 420 per saham.

Saham INDF Turun ke MSCI Small Cap, Masih Layak Dikoleksi?