BNP Paribas AM yakin AUM reksa dana tumbuh 10% pada tahun ini

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Di tengah isu penurunan prospek oleh MSCI dan Moody’s. PT BNP Paribas Asset Management masih percaya dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana tumbuh sekitar 10% sepanjang 2026. Target tersebut sejalan dengan capaian kinerja perusahaan pada tahun sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan positif.

Direktur Investasi PT BNP Paribas Asset Management Djumala Sutedja mengungkapkan, pada 2025 total AUM reksa dana dan Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) yang dibukukan perusahaan mencapai Rp 34,95 triliun. Angka ini meningkat hampir 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

“(Sepanjang 2026) Kami berupaya mencapai target kenaikan 10% AUM dari tahun sebelumnya,” ujar Djumala kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Kompak, Rupiah Jisdor Melemah 0,27% ke Rp 16.826 per Dolar AS pada Kamis (12/2/2026)

Djumala menilai prospek industri reksa dana pada 2026 tetap positif dengan potensi peningkatan AUM secara bertahap. Sejumlah katalis diperkirakan menopang pertumbuhan industri, mulai dari stabilitas ekonomi domestik hingga dukungan kebijakan moneter dan fiskal, baik dari dalam negeri maupun global.

Selain itu, perluasan basis investor ritel serta inovasi produk yang semakin sesuai dengan kebutuhan pasar turut menjadi pendorong. 

Meski demikian, ia mengakui isu penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI dan perubahan outlook Moody’s sempat memicu volatilitas jangka pendek di pasar keuangan.

“Namun perkembangan tersebut kami lihat berpotensi mendorong perbaikan struktural pasar yang mendukung pertumbuhan industri reksa dana dalam jangka menengah hingga panjang,” jelasnya.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per 29 Januari 2026, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana mencapai Rp 714,04 triliun, tumbuh 5,73% mtm. Nilai ini meningkat dibandingkan NAB per akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 675,32 triliun atau tumbuh 4,80% mtm.

Tren kinerja NAB yang solid di awal Januari tersebut didukung oleh net subscription investor reksa dana yang kuat, yaitu mencapai Rp 41,18 triliun mtm. Adapun di akhir Desember, net subscription sebesar Rp 23,91 triliun mtm.

Menurut Djumala, kenaikan dana kelolaan di awal tahun terutama didorong oleh masuknya dana baru yang lazim terjadi seiring aktivitas rebalancing portofolio investor.

Di tengah volatilitas pasar, koreksi yang dinilai sehat justru membuka peluang bagi investor untuk melakukan penambahan investasi secara selektif. 

Nagita Slavina Negosiasi Bakal Jadi Pengendali Baru Satu Visi Putra (VISI)

Sementara itu, penerbitan produk reksa dana baru juga memberi sentimen positif karena memperluas pilihan instrumen investasi, meskipun secara agregat kontribusinya terhadap pertumbuhan AUM dinilai masih relatif terbatas.

Adapun dari sisi produk, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap mencatatkan tren pertumbuhan dana kelolaan yang lebih kuat sepanjang 2026. Kedua jenis reksa dana tersebut dinilai lebih diminati karena menawarkan stabilitas nilai, likuiditas yang baik, serta profil risiko yang lebih terukur di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Meski demikian, Djumala tetap mengingatkan investor agar memilih produk investasi sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.