
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Permintaan pasar terhadap reksa dana pendapatan tetap meningkat sepanjang 2025. Bahkan, peningkatan permintaan terjadi secara konsisten setiap bulannya pada tahun lalu.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025, permintaan terhadap reksa dana pendapatan tetap (RDPT) meningkat dengan asset under management (AUM) mencapai hingga Rp244,44 triliun. Realisasi itu mencerminkan kenaikan hingga 66,93% year-on-year (YoY) dari realisasi AUM Rp146,43 triliun pada Desember 2024.
Berdasarkan data tersebut, dana kelolaan atau AUM RDPT mulai menanjak secara signifikan sejak Juli 2025. Hal itu terjadi lantaran pada periode Juli–Desember 2025, Bank Indonesia secara aktif memangkas suku bunga dari posisi 5,50% pada Juni hingga 4,75% pada akhir tahun.
: Kuda-Kuda Manajer Investasi di 2026 Usai AUM Reksa Dana Cetak Rekor
Penurunan suku bunga acuan akhirnya berdampak pada yield SBN 10 tahun yang kian menguat. Memasuki Juli 2025, yield SBN 10 tahun telah bergerak di level 6,58% dan terus menguat hingga pada Desember 2025 ditutup di level 6,12%.
Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai kian agresifnya investor untuk mengalokasikan dana ke RDPT disebabkan oleh pemangkasan suku bunga yang kian kencang dilakukan oleh BI belakangan.
: : Eastspring Indonesia Ungkap Strategi Reksa Dana Saham pada 2026
Hal itu kemudian membuat imbal hasil yang ditawarkan oleh terutama obligasi negara, kalah pamor dibandingkan return yang ditawarkan oleh RDPT. Alhasil realokasi dana tidak dapat dihindari.
“Dengan suku bunga yang terus turun, yield juga turun. Mungkin saat suku bunga tinggi, masyarakat tidak terlalu banyak berpikir masuk ke instrumen [obligasi]. Saat ini, akhirnya masyarakat mulai melirik instrumen yang bisa memberi return lebih,” katanya kepada Bisnis, dikutip Senin (5/1/2026).
: : Industri Reksa Dana Gantungkan Nasib pada Laju Ekonomi RI 2026
Semaraknya investor untuk masuk ke pasar RDPT sebetulnya sejalan dengan realisasi penerbitan SBN Ritel yang pada sejumlah penerbitan di 2025, sempat tidak ludes di pasaran.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, terdapat setidaknya dua seri yang tidak ludes di pasaran, yaitu SBR014 dan SR023. SBR014 yang diterbitkan pada periode 14 Juli–7 Agustus 2025 dan menargetkan dana terhimpun hingga Rp15 triliun, hanya mampu membukukan penjualan senilai Rp14,91 triliun. Artinya, produk ini hanya laris di pasaran sebesar 99,4%.
Sementara itu, SR023 yang diterbitkan setelahnya pada periode 22 Agustus–15 September 2025, hanya membukukan penjualan Rp18,73 triliun dari target dana terhimpun Rp20 triliun. Artinya, penjualan SR023 hanya mencapai 93,65% dari target awal pemerintah.
Untuk diketahui, penerbitan SBR014 hampir bersamaan dengan BI yang memangkas suku bunga ke level 5,25% pada 16 Juli 2025. Begitu juga penerbitan SBR023 yang dilakukan saat suku bunga acuan telah berada di level 5,00%. Kedua instrumen itu sempat menawarkan imbal hasil yang cukup rendah saat itu, sebelum BI kembali melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter.
“Kalau saya lihat kenapa reksa dana tinggi, kemungkinan instrumen-instrumen yang berisiko rendah seperti sukuk, ORI, itu bunga rendah. Makanya kemarin sempat di bawah target,” kata Ramdhan.
Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menilai, permintaan yang kuat terhadap reksa dana pendapatan tetap belakangan, lebih disebabkan oleh realokasi dana investor lantaran pemangkasan suku bunga yang terjadi sepanjang 2025.
“Tren penurunan bunga membuat ada pengalihan ke reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap, terutama dari nasabah perbankan,” kata Rudiyanto kepada Bisnis beberapa waktu lalu.