IHSG berpeluang menuju 10.200, asing dan saham perbankan bisa menjadi kunci

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek pasar saham Indonesia pada 2026 dinilai tetap positif meski volatilitas global beberapa waktu terakhir memicu tekanan terhadap rupiah dan IHSG.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai potensi kenaikan indeks sebesar 12,9% sebagaimana proyeksi HSBC masih masuk akal jika aliran dana asing konsisten dan tekanan global mereda.

“Target kenaikan 12,9% itu masih optimistis. Valuasi IHSG dibandingkan indeks di Asia belum mahal, foreign juga belum sepenuhnya kembali, dan beberapa core stock seperti perbankan masih belum perform,” ujar Liza kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).

Keperkasaan Dolar AS dan Tekanan Domestik Bikin Mata Uang Asia Bergerak Fluktuatif

Ia menjelaskan sektor perbankan memiliki sensitivitas kuat terhadap arus modal asing dan biasanya menjadi penerima manfaat terbesar ketika aliran dana masuk kembali meningkat. Selama valuasi masih di bawah rata-rata historis, ruang penguatan masih terbuka.

Menurut Liza, proyeksi kenaikan IHSG pada 2026 didorong kombinasi valuasi yang menarik, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global, serta dukungan permintaan domestik. Dibanding Singapura dan Malaysia, Indonesia memiliki ruang rerating lebih besar setelah periode underperformance sepanjang tahun berjalan.

Meski demikian, kondisi pasar tidak sepenuhnya mulus. Liza mengingatkan bahwa IHSG sempat tertekan ketika rupiah melemah hingga menyentuh Rp 16.877 per dolar AS, level terlemah dalam sejarah. “Risiko defisit APBN melebar sampai 3% bisa meningkatkan yield obligasi dan merontokkan saham,” ujarnya.

Ia juga menyebut tensi geopolitik global dan volatilitas harga komoditas sebagai faktor yang perlu dicermati. Sementara itu, aksi beli asing yang sempat mencapai hampir Rp 2 triliun menjadi sinyal bahwa minat investor global belum sepenuhnya hilang. Namun, sensitivitas pasar Indonesia terhadap perubahan arah kebijakan The Fed tetap tinggi.

Di sisi lain, karakter pasar Indonesia yang sangat dipengaruhi komoditas memberi keuntungan tersendiri. “Indonesia sedikit diuntungkan dari harga komoditas yang naik karena market kita commodity-driven,” kata Liza, mencontohkan penguatan saham-saham emas ketika harga emas global menembus rekor USD 4.600 per troy ounce.

Secara teknikal, menurutnya, tren menengah IHSG masih berada dalam fase bullish selama indeks mampu bertahan di area support moving average terdekat. Meski pergerakan dua hari terakhir terlihat fluktuatif, pola kenaikan jangka menengah dinilai masih terjaga.

Terkait target IHSG 9.450 oleh HSBC untuk 2026, Liza menilai level tersebut realistis apabila penurunan suku bunga global berjalan sesuai proyeksi dan ekonomi domestik tumbuh stabil. “Kunci pencapaiannya ada pada konsistensi arus dana asing, stabilitas nilai tukar, serta kinerja laba emiten yang mampu pulih sejalan konsumsi dan investasi,” jelasnya.

Pasar Saham Indonesia Diproyeksi Menguat pada 2026, Tantangan IPO Masih Membayangi

Ia menambahkan, Kiwoom Research bahkan lebih optimistis. “Sejak Desember lalu, kami meramalkan target IHSG 2026 di kisaran 10.000–10.200,” ujar Liza.

Meski outlook positif, investor tetap disarankan mewaspadai risiko eksternal dan domestik. Arah kebijakan The Fed, tensi geopolitik, dan stabilitas rupiah disebut akan sangat menentukan keberlanjutan reli IHSG sepanjang 2026. Selain itu, defisit transaksi berjalan dan tekanan harga energi global bisa menjadi sumber volatilitas tambahan.

Dengan kombinasi faktor domestik dan eksternal tersebut, analis menilai pasar saham Indonesia masih memiliki ruang kenaikan, namun arah jangka panjang akan sangat ditentukan oleh sentimen global dan arah likuiditas internasional.