
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham emiten minyak dan gas atau migas melesat ke zona hijau pada perdagangan pagi ini, Senin (5/1/2026), imbas dari konflik AS-Venezuela. Saham-saham tersebut seperti MEDC, ELSA, hingga ENRG.
Melansir data RTI Infokom pukul 9.45 WIB, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) menguat 2,94% ke level Rp525 per saham. Saham ELSA pagi ini diperdagangkan pada rentang Rp515-Rp535 per saham pagi ini.
Saham emiten migas Grup Bakrie PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) juga menguat pagi ini ke zona hijau. Saham ENRG naik 3,05% ke level Rp1.690 dan diperdagangkan pada rentang Rp1.660-Rp1.760 per saham.
Demikian juga saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang menguat 3,10% ke level Rp1.495 per saham. Saham MEDC sempat menguat hingga menyentuh level Rp1.630 per saham pagi ini.
Di sisi lain, saham migas milik Happy Hapsoro, RATU bergerak volatil pagi ini. Saham RATU diperdagangkan pada rentang Rp9.575-Rp9.825 per saham.
Sementara itu, saham-saham migas lainnya, seperti ESSA menguat 0,81% ke level Rp620, APEX naik 8,87% ke level Rp270, ATLA menguat 4,84% ke level Rp65, CGAS naik 4,95% ke level Rp191, dan saham WOWS menguat 10,75% ke level Rp103 per saham.
: Rupiah Dibuka Loyo ke Level Rp16.747 Hari Ini (5/1) saat Greenback Perkasa
Seperti diberitakan Bisnis, harga minyak dunia bergerak fluktuatif seiring dengan sikap pelaku pasar yang mencermati dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat terhadap pasokan minyak global serta implikasinya bagi sektor energi negara tersebut.
Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (5/1/2026), harga minyak jenis Brent sempat turun hingga 1,2% pada pembukaan perdagangan sebelum berbalik naik 0,21% di kisaran US$60,88 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpantau menguat tipis 0,09% pada level US$57,37 per barel.
Kendati terjadi gejolak politik di Venezuela sepanjang akhir pekan lalu, kontribusi negara anggota OPEC tersebut terhadap pasokan global relatif kecil, sementara pasar saat ini justru dibayangi kelebihan pasokan.
“Gangguan jangka pendek terhadap produksi Venezuela dengan mudah dapat diimbangi oleh peningkatan produksi di wilayah lain. Kami memperkirakan pertumbuhan pasokan global dalam satu tahun ke depan akan mendorong harga minyak turun mendekati US$50 per barel,” jelas Kepala Ekonom Capital Economics Ltd., Neil Shearing, dalam catatannya.
Adapun, indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga pukul 09.50 WIB tercatat bergerak menguat 0,35% pada level 8.778,45. IHSG diperdagangkan pada rentang 8.732-8.795 pagi ini.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menuturkan eskalasi ketegangan politik global akibat serangan AS ke Venezuela akan menjadi fokus perhatian investor pada pekan ini. Investor akan menghindari aset yang berisiko dan beralih ke instrumen investasi yang lebih aman, seperti dolar AS dan emas.
Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi dari AS, seperti data tenaga kerja, manufaktur dan Michigan consumer confidence. Data inflasi, trade balance, cadangan devisa dan consumer confidence akan dirilis pekan ini.
IHSG berpotensi terimbas sentimen negatif jika terjadi tekanan jual dari investor asing.
“Namun jika terjadi kenaikan harga minyak mentah dan emas, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga saham sektor energi dan komoditas terkait,” tulis Phintraco Sekuritas, Senin (5/1/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.