
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo menuturkan emiten dengan price to earning (PE) rasio ratusan hingga ribuan kali merupakan saham anomali atau red flag. Lalu, saham mana saja yang merupakan saham red flag tersebut?
Melansir data Terminal Bloomberg, terdapat setidaknya 76 saham yang memiliki PE ratusan hingga ribuan kali di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Rabu (11/2/2026).
Saham PT Golden Flower Tbk. (POLU) misalnya, saat ini memiliki PE sebesar 1.636 kali. Saham emiten yang bergerak di industri garmen ini diperdagangkan pada level Rp19.900 per saham.
: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Kamis 12 Februari 2026
Kemudian saham PT Surya Semesta Indonusa Tbk. (SSIA) yang memiliki PE 562,99 kali. Saham emiten kawasan industri dan properti yang juga dimiliki Grup Djarum dan Prajogo Pangestu ini dihargai pada Rp1.520 per saham.
Kemudian terdapat saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) yang merupakan saham termahal di Bursa. Saham milik Otto Toto Sugiri dan Anthoni Salim ini memiliki PE 459,81 kali, dengan harga Rp225.325 per saham.
: : Investor Asing yang Serok Saham PTRO, Emiten Prajogo Pangestu yang Harganya Melejit
Saham dengan market cap paling tinggi di BEI PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) juga menjadi salah satu saham dengan PE tinggi. Saham milik Prajogo Pangestu ini memiliki PE 446,17 kali.
Demikian juga dengan saham afiliasi Hashim Djojohadikusumo, PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN). Saham COIN memiliki PE sebesar 516,82 kali.
: : Investor China Chengdong Investment Jual 10,94 Miliar Saham BUMI Januari 2026
Sebagaimana diketahui, Arsari Group melalui PT Arsari Nusa Investama milik Hashim Djojohadikusumo menjadi salah satu pemegang saham COIN per Desember 2025.
Sebagai informasi, PE ratio kerap digunakan oleh investor untuk menakar valuasi saham tergolong murah atau mahal. Hal itu didasarkan pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.
Sebelumnya, Hashim menyoroti adanya anomali rasio price to earnings (PE) di pasar modal Indonesia yang tidak masuk akal. Hashim mengungkapkan, saat ini terdapat emiten-emiten di pasar modal dengan rasio PE mencapai 167 kali, 900 kali, hingga 4.000 kali.
“Ketika ada perusahaan dengan PE ratio 167, 900, 1.200, bahkan 4.000, ada sesuatu yang salah. Itu red flag,” ucap Hashim dalam Asean Climate Forum (ACF) 2026, di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Hashim menjelaskan pemerintah akan mengawasi dengan sangat ketat pasar modal Indonesia. Menurutnya, gejolak pasar modal yang terjadi karena tidak ada transparansi.
Adik dari Presiden Prabowo Subianto ini juga menuturkan pasar modal hanya akan berhasil jika adanya kepercayaan dan kredibilitas.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.