Saham big caps mulai unjuk gigi saat kebanjiran inflow asing

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham berkapitalisasi jumbo atau big caps mulai bergeliat diiringi oleh aliran masuk asing (foreign capital inflow). Adapun, investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy senilai Rp4,6 triliun dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 12-15 Januari 2026, catatan aliran masuk asing ke pasar saham Tanah Air mencapai Rp4,6 triliun pada pekan lalu. Sejak awal tahun, net buy asing di pasar saham Rp6,35 triliun.

Inflow ini diperkirakan menjadi momentum untuk melakukan rotasi saham ke saham-saham berkapitalisasi pasar besar. 

: IHSG Diproyeksi Konsolidasi pada Level 9.000 Pekan Depan, Cermati Saham JPFA, BBRI, dan AADI

Adapun, saham big caps seperti INCO, ASII, dan ARCI menjadi saham-saham yang paling diminati investor asing. Asing mencetak net foreign buy (NFB) Sebesar Rp602,3 miliar terhadap saham INCO, sebesar Rp564,6 miliar terhadap saham ASII, dan sebesar Rp477 miliar untuk saham ARCI. 

Sementara itu, dalam waktu 20 hari terakhir, investor asing melakukan net buy pada saham ANTM senilai Rp2,6 triliun, ASII sebesar Rp1,4 triliun, dan INCO senilai Rp1,2 triliun.

Adapun sepanjang pekan lalu IHSG bergerak cukup volatil meskipun memecahkan rekor all time high beberapa kali. IHSG juga menembus level 9.000 pada pekan lalu. 

Terpantau IHSG menguat 1,68% dalam sepekan dibandingkan dengan pekan sebelumnya dan bergerak pada rentang 8.715-9.100.

Sementara itu, indeks LQ45 tercatat telah menguat 5,05% sejak awal tahun, melampaui penguatan IHSG sebesar 4,96% secara YTD.

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mencermati aliran modal asing telah banyak masuk ke saham-saham big caps, khususnya saham-saham likuid anggota indeks LQ45.

“Ini terlihat dari kondisi saat pasar bergerak volatil, namun indeks LQ45 justru mampu menguat cukup solid,” tutur Ekky, Kamis (15/1/2026). 

Menurut Ekky, hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai melakukan reposisi ke saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid, bukan keluar dari pasar. Ekky meyakini ke depan, saham-saham berfundamental baik akan menjadi motor penggerak pasar. 

Gudang Garam Tbk. – TradingView

Dia menjelaskan saham-saham big caps pada dasarnya juga didominasi oleh emiten konglomerasi, seperti BBCA atau GGRM, sehingga ketergantungan terhadap grup besar merupakan karakter struktural pasar, bukan anomali. 

“Dalam kondisi seperti ini, biarkan mekanisme pasar bekerja secara alami tanpa terlalu banyak intervensi,” ucap Ekky.

Dia melanjutkan ketika saham-saham fundamental belum bergerak atau tertinggal, kondisi tersebut dapat dilihat sebagai peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi. 

Dalam jangka panjang, kata dia, selama fundamental dan prospek emiten tetap kuat, harga saham pada akhirnya akan mencerminkan nilai intrinsiknya. 

“Sangat mungkin, ke depan giliran saham-saham fundamental yang akan menjadi motor penggerak pasar, ketika momentum rotasi kembali terjadi,” kata Ekky.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.